Kamis, 03 Mei 2012
Air Bersih
Penghawaan
Pencahayaan
Selasa, 14 Februari 2012
5 Cara Salah Mendidik Anak
Kamis, 15 September 2011
RUMAH SEHAT
Saat ingin jual property yang anda miliki biasanya calon pembeli melihat poin pertamanya ya itu ke bersihan rumahnya karena kebersihan rumah yang akan mereka tempati adalah poin penting kelayakan rumah yang akan di tempati berikut ini ada beberapa tips perawatan rumah idaman:
1 : Membersihkan kerak di kamar mandi
Lantai kamar mandi yang berkerak kuning kecokelatan dapat dihilangkan dengan cara sebagai berikut : Kerak digosok berkali-kali dengan batu apung dan air sabun, kemudian dibilas dengan air bersih. Citroenzuur (asam sitrat) ditaburkan pada dinding dalam atau luar dan dasar bak mandi yang sudah dibasahi sebelumnya, biarkan asam sitrat bereaksi selama satu jam. Kemudian, disikat dan disiram dengan air bersih dan dibilas sampai benar-benar bersih. Selanjutnya keringkan dengan lap kering. Asam sitrat atau sering disebut sitrun yang berbentuk bubuk berwarna putih tersebut dapat diperoleh di toko-toko perlengkapan kue.
2 : Memperbaiki lantai keramik retak / lepas
Lantai keramik retak dilepas dengan hati-hati agar keramik yang masih utuh tidak ikut terlepas. Nat dikorek dengan benda tajam. Setelah itu pasangan lantai dilepas atau dipecah sampai ke dasar, dibuat dasar lantai, kemudian keramik lantai pengganti dipasang.
Jika nat lantai keramik yang rusak, nat dibersihkan dahulu dengan cara dikorek. Kemudian nat disiram dengan air bersih. Selanjutnya celah nat diisi dengan campuran yang agak cair dan biarkan meresap sampai ke dalam. Pada waktu isian tadi masih setengah kering, diikuti dengan campuran yang lebih kental dan ditekan agar padat. Sebelum isian tersebut mongering, sisa-sisa bahan pengisi yang tercecer di permukaan lantai dilap dengan lap kering.
3 : Memperbaiki lantai yang basah atau lembab.
Perbaikan pada lantai yang basah atau lembab sebenarnya cukup mudah asal diketahui penyebabnya. Apabila resapan air ke permukaan lantai masuk melalui nat, nat ditutup dengan bahan yang kedap air. Jika terjadi pada lantai yang bukan kedap air, seluruh lantai yang basah dan lembab tersebut dibongkar sampai ke dasar urugan pasir. Di atas urugan pasir tersebut dilapisi dengan lembaran plastik lalu di atasnya dilapisi dengan campuran spesi yang kedap air dengan perbandingan 1 semen : 2 pasir setebal 3 cm. Lantai sudah siap dipasang kembali.
4 : Memperbaiki lantai kamar mandi yang bocor.
Kebocoran pada kamar mandi di rumah biasanya berasal dari nat keramik. Seringkali nat terkikis oleh air, bahan kimia pembersih, sabun, atau cara pemasangan keramik pada kamar mandi yang kurang tepat. Harus diketahui dahulu apakah keramik tersebut menempel dengan baik pada lantai dengan cara lantai diinjak dengan sedikit tekanan atau diketuk. Jika berbunyi nyaring berarti terdapat celah atau rongga kosong.
5 : Mengecat dinding agar tidak mudah mengelupas.
Agar lapisan cat pada dinding tidak mudah mengelupas maka penggunaan plamur harus dibatasi hanya sebagai penutup retak-retak rambut yang halus pada dinding. Seringkali kita melakukan kesalahan yaitu menggunakan plamur sebagai lapisan cat dasar. Bahan plamur tidak dibuat untuk mengikat cat sehingga kalau tetap digunakan dalam proses pengecatan, maka cat akan mudah mengelupas. Waktu pengecatan pada dinding harus dipilih dengan hati-hati.
Jika pengecatan dilakukan pada kondisi hujan, cat akan butuh waktu lama untuk mengering. Begitu pula jika pengecatan dilakukan pada kondisi matahari sangat terik, hasilnya juga kurang bagus. Hasil pengecatan di bagian luar (permukaan dinding) akan mongering lebih dahulu daripada bagian dalam. Hal ini berpotensi menyebabkan cat retak, menggelumbung atau mengelupas. Waktu ideal untuk melakukan pengecatan adalah pada kondisi kering dan tidak pada saat matahari bersinar sangat terik.
6 : Kapan perlu melakukan pengecatan ulang ?
Pengecatan ulang perlu dilakukan jika kita menemukan dinding rumah sudah mengapur. Tanda-tandanya dapat kita ketahui dengan menyaapukan telapak tangan pada permukaan dinding. Jika kita dapatkan bekas bubuk putih berarti dinding perlu dicat kembali.
7 : Cara memaku dinding agar tidak retak.
Seringkali kita memaku dinding untuk mengantungkan pigura atau aksesoris rumah tangga, namun kita dapati dingding menjadi retak. Hal ini terjadi bukan karena campuran spesi yang kurang bagus tapi karena kita belum mengetahui cara memaku dinding yang benar. Caranya adalah dengan memberikan selotip silang pada dinding sebelum permukaan tembok dipaku, baru kemudian dipaku pada bagian tengah persilangan selotip tadi. Setelah selesai, selotip dilepaskan secara perlahan sesuai kebutuhan.
Jika bahan dinding kurang berkualitas, maka jika dipaku, dinding akan rontok. Cara untk mengatasinya adalah siramkan dua sampai tiga sendok makan cuka pada bagian dinding yang hendak dipaku. Tunggu sampai kering baru kemudian dinding dapat dipaku.
8 : Menjaga kusen pintu dan jendela agar bebas dari rayap
Caranya dengan mencampur 3 Oli dan 1 solar kemudian diaduk sampai rata. Campuran tersebut dioleskan merata keseluruh permukaan kayu sampai campuran oli dan solar tersebut benar-benar kering. Setelah itu dilakukan pengecatan pada permukaan kayu. Dapat pula sebelum dicat, permukaan kayu dilapisi obat anti jamur untuk mencegah serangan dari rayap.
9 : Membasmi jamur di rumah.
Untuk mengatasi jamur ringan dan belum lama menyerang bagian-bagian rumah pada dinding dan plafon atau bahkan perabot rumah, dapat digunakan cuka, fungisida (pembasmi jamur) atau cairan disinfektan. Caranya, kain lap ditetesi cuka, disapukan pada bagian yang terserang jamur secara perlahan-lahan agar spora jamur tidak beterbangan kemana-mana. Penyapuan diulangi dengan cuka dan kain lap baru. Sikat tidak disarankan untuk membersihkan jamur karena akan membuat spora menyebar ke tempat lain, misalnya menempel pada perabot, sofa atau terhirup oleh manusia.
Jika serangan jamur sudah lama dan cukup berat, misalnya pada plafon akibat bocor, segera diperbaiki kebocorannya dan diganti plafonnya atau dicat ulang. Instalasi sanitasi juga perlu dijaga dari kerusakan dan bocor agar tidak menjadi penyebab munculnya jamur.
Demikian tipsnya semoga bermanfaat untuk anda.
Rabu, 25 Mei 2011
BREGADA PRAJURIT KRATON JOGJA
Prajurit Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibentuk pada masa pemerintahan Hamengkubuwono I sekitar abad 17. Tepatnya pada tahun 1755 Masehi. Prajurit yang terdiri atas pasukan-pasukan infanteri dan kavaleri tersebut sudah mempergunakan senjata-senjata api yang berupa bedil dan meriam. Selama kurang lebih setengah abad pasukan Ngayogyakarta terkenal cukup kuat, ini terbukti ketika Hamengkubuwono II mengadakan perlawanan bersenjata menghadapi serbuan dari pasukan Inggris dibawah pimpinan Jenderal Gillespie pada bulan Juni 1812. Di dalam Babad menceritakan bahwa perlawanan dari pihak Hamengkubuwono II hebat sekali. Namun semenjak masa Pemerintahan Hamengkubuwono III kompeni Inggris membubarkan angkatan perang Kasultanan Yogykarta. Dalam perjanjian 2 Oktober 1813 yang ditandatangani oleh Sultan Hamengkubuwono III dan Raffles, dituliskan bahwa Kesultanan Yogyakarta tidak dibenarkan memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Dibawah pengawasan Pemerintahan Kompeni Inggris, keraton hanya boleh memiliki kesatuan-kesatuan bersenjata yang lemah dengan pembatasan jumlah personil. Sehingga tidak memungkinkan lagi untuk melakukan gerakan militer. Maka sejak itu fungsi kesatuan-kesatuan bersenjata sebatas sebagai pengawal sultan dan penjaga keraton.
Ketika Pemerintahan Kolonial Belanda kembali berkuasa pasukan-pasukan bersenjata yang sudah lemah tersebut makin dikurangi sehingga tidak mempunyai arti secara militer. Menurut catatan yang ada, semasa pemerintahan Hamengkubuwono VII sampai dengan masa pemerintahan Hamengkubuwono VIII yaitu antara tahun 1877 sampai dengan 1939 ada 13 kesatuan prajurit kraton yang meliputi: Kesatuan Sumoatmojo, Ketanggung, Patangpuluh, Wirobrojo, Jogokaryo, Nyutro, Dhaeng, Jager, Prawirotomo, Mantrijero, Langenastro, Surokarso dan Bugis.
Saat ini, keberadaan bregada-bregada prajurit Keraton berada dibawah Pengageng Tepas Kaprajuritan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Bregada-bregada prajurit Keraton ini selalu tampil dengan urutan dan formasi tertentu sesuai peran dan fungsi masing-masing, sebagaimana yang ditampilkan dalam setiap defile pada upacara Garebeg.
Setiap defile biasanya dimulai dengan tampilnya Bregada Prajurit Wirobrojo. Dahulu, Prajurit Wirobrojo selalu berada di garis terdepan dalam setiap pertempuran. Karenanya di masa kini dalam berbagai upacara adat, bregada ini selalu diposisikan di barisan paling depan.
Pada urutan berikutnya, tampil Bregada Prajurit Dhaheng. Pengambilan nama bregada ini berkaitan dengan asal-usul para prajuritnya yang berasal dari Sulawesi. Di belakang Prajurit Dhaheng, tampil Bregada Prajurit Patangpuluh. Bregada ini, bermula dari 40 orang prajurit yang pada jamannya dikenal memiliki keberanian dan ketangguhan luar biasa, yang sangat diandalkan di medan pertempuran.
Berikut penjelasan dan gambar dari prajurit kraton yang disarikan dari berbagai sumber:
1. BREGADA PRAJURIT SUMOATMOJO
Merupakan pasukan pengawal pribadi sultan yang langsung berada dibawah komando sultan. Pasukan ini terdiri dari 2 orang perwira berpangkat panji, 2 orang bintara berpangkat sersan dan 16 orang prajurit. berseragam baju zirah dengan perisai lempengan baja berbentuk bulan sabit berukuran besar, berikat pinggang besar dan kuat terbuat dari kulit kerbau, memakai tutup kepala yang disebut udheng gilig dan tidak memakai alas kaki. Senjata yang digunakan adalah pedang lengkung terhunus dengan perisai bulat. Prajurit Sumoatmojo tidak mempunyai duaja atau bendera, seluruh tubuhnya dan wajahnya dibedaki dengan boreh berwarna kuning. Jika melaksanakan tugas mengawal sultan, di sepanjang jalan memperagakan tarian perang atau tayungan.
2. BREGADA PRAJURIT WIROBROJO
Terdiri 4 perwira berpangkat panji, 8 bintara berpangkat sersan, 72 prajurit dan 2 orang pembawa duaja. Komandan pasukan ini berpangkat bupati. Pakaian yang dikenakan: . Topi Centhung (berbentuk seperti kepompong), warna merah. Destar (ikat kepala) berwarna wulung (ungu). Baju dalam lengan panjang berwarna putih, Beskap baju luar, berwarna merah, Lonthong (ikat pinggang dalam) : kain bermotif cinde dominasi warna merah, kamus (ikat pinggang luar) berwarna hitam, Sayak (kain penutup dari pinggang sampai di atas lutut) berwarna putih, celana Panji (celana yang mempunyai panjang sebatas lutut) berwarna merah. Kaos kaki berwarna putih, sepatu fantopel warna hitam, Karena Prajurit ini berpakaian serba merah maka lebih dikenal dengan nama Prajurit lombok abang. Persenjataannya berupa bedil dan memakai keris dengan kerangka bermotif branggah.
Nama Bendera: GULO KLOPO. Dasar putih, gambar bintang warna merah berada di tengah, pada ke empat sudutnya diberi hiasan ‘kukon’ (bentuknya seperti kuku). Nama Musik: Mares RETODHEDHALI, untuk berjalan pelan dan digayakan, sedangkan Mares DHAYUNGAN, untuk berjalan cepat
Pada zaman dahulu, Prajurit Wirobrojo selalu berada di garis terdepan dalam setiap pertempuran. Karenanya di masa kini dalam berbagai upacara adat, bregada ini selalu diposisikan di barisan paling depan. Bregada Prajurit Wirobrojo menggunakan seragam berbentuk sikepan, ikat pinggang dari kain satin dan celana panji yang semua berwarna merah, sepatu pantopel hitam dengan kaus kaki putih, serta topi berbentuk lombokan berwarna merah yang disebut Kudhup Turi. Benderanya bernama Gula Klapa, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Santri dan Kanjeng Kyai Slamet. Alat musik tambur dan seruling yang melengkapi korps musiknya, melantunkan lagu bernama Gendhing Dayungan dan Lagu Rotodadali. Senjata yang melengkapinya berupa senapan api dan tombak. Karena model seragamnya yang menyerupai lombok merah, Prajurit Wirobrojo juga disebut sebagai Prajurit Lombok Abang. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata “Brojo”.
http://primantoro.web.id/wp-content/uploads/2011/05/prajurit_wirobrojo_1.jpg
3. BREGADA PRAJURIT DHAHENG
Pada urutan berikutnya, tampil Bregada Prajurit Dhaheng. Pengambilan nama bregada ini berkaitan dengan asal-usul para prajuritnya yang berasal dari Sulawesi. Ciri Bregada Prajurit Dhaheng adalah baju dan celana panjang putih dengan strip merah pada bagian dada dan samping celana, topi berbentuk mancungan berwarna hitam dengan hiasan bulu ayam warna merah putih. Benderanya bernama Bahning Sari, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Jatimulyo atau Doyok. Korps musik Bregada Prajurit Dhaheng memainkan perangkat musik tambur, seruling, bende, ketipung, pui-pui dan kecer. Lagu yang didendangkan bernama Ondal-andil dan Kenobo. Senjata yang melengkapi Bregada Prajurit Dhaheng adalah senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata “Niti”.
Terdiri 4 perwira berpangkat panji, 8 bintara berpangkat sersan, 72 prajurit dan 1 orang pembawa duaja. Berseragam topi hitam pakai cundhuk, destar wulung, jas putih setrip merah, Lonthong biru, kamus hitam, celana panjang setrip abang, kaos kaki hitam,Sepatu fantopel. Persenjataannya berupa bedil dan memakai keris dengan kerangka bermotif gayaman. Nama Bendera BAHMING SARI, Dasar putih, gambar plentong warna merah berada di tengah. Nama musik Mares KANOKO, untuk berjalan pelan dan digayakan. Sedangkan Mares UNDHAL-ANDHIL, untuk berjalan cepat.
http://primantoro.web.id/wp-content/uploads/2011/05/prajurit_daeng_5.jpg
4. BREGADA PRAJURIT PATANGPULUH
Di belakang Prajurit Dhaheng, tampil Bregada Prajurit Patangpuluh. Bregada ini, bermula dari 40 orang prajurit yang pada jamannya dikenal memiliki keberanian dan ketangguhan luar biasa, yang sangat diandalkan di medan pertempuran. Prajurit Patangpuluh menggunakan seragam berbentuk sikepan dengan corak lurik khas Patangpuluh, celana pendek merah di luar celana panjang putih, rompi berwarna merah, sepatu lars hitam serta tutup kepala berbentuk songkok berwarna hitam. Benderanya bernama Cakragora, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Korps musik Bregada Prajurit Patangpuluh dilengkapi dengan perangkat musik tambur, seruling dan terompet yang melagukan Mars Bulu-bulu dan Gendera. Bregada Prajurit Patangpuluh dipersenjatai dengan senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata “Himo”.
Terdiri 4 perwira berpangkat panji, 8 bintara berpangkat sersan, 72 prajurit dan 1 orang pembawa bendera. Pakaian yang digunakan: topi pacul gowang, destar wulung, sikepan lurik kemiri, rompi merah, Lonthong merah, kamus hitam. Celana atas merah bawah putih, bengkap hitam kaos kaki hitam.. Sepatu fantopel hitam. Senjata digunakan adalah bedil dan memakai keris branggah.
Nama bendera: COKROGORO, Dasar hitam, tengah bergambar bintang warna merah. Nama musik: Mares GENDERO, untuk berjalan pelan dan digayakan, Mares BULU-BULU, untuk berjalan cepat.
http://primantoro.web.id/wp-content/uploads/2011/05/prajurit_patangpuluh.jpg
5. BREGADA PRAJURIT JOGOKARYO
Selanjutnya tampil Bregada Prajurit Jogokaryo. Ciri Bregada Prajurit Jogokaryo adalah seragam berbentuk sikepan dan celana bercorak lurik khas Jogokaryo dengan rompi kuning emas, sepatu pantopel hitam dengan kaos kaki biru tua serta topi hitam bersayap. Benderanya bernama Papasan, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Bregada ini dilengkapi dengan perangkat musik tambur, seruling, dan terompet, yang melagukan Tameng Madura dan Slagunder. Bregada Prajurit Jogokaryo dilengkapi dengan senjata berupa senapan api dan tombak. Ciri nama-nama para prajurit dalam bregada ini selalu disertai dengan kata “Parto”.
Terdiri 4 perwira berpangkat panji, 8 bintara berpangkat sersan, 72 prajurit dan 1 orang pembewa duaja. Topi hitam betuk tempelangan, seperti kapal terbalik. Destar wulung, Rompi berwarna crem, beskap lurik lupat lapis merah, sayak lurik, lonthong merah, Kamus hitam. Celana panji lurik, kaos kaki panjang, sepatu pantopel hitam. Persenjataanya berupa bedil dan memakai keris branggah. Nama bendera: PAPASAN. dasar hijau ditengah ada gambar plentong warna merah. Nama musik: Mares SLANGGUNDER, digunakan untuk jalan pelan dengan digayakan, sedangkan Mares TAMENGMADURO untuk berjalan cepat.
http://primantoro.web.id/wp-content/uploads/2011/05/prajurit_jogokarya_1.jpg
6. BREGADA PRAJURIT PRAWIROTOMO
Bregada Prajurit Prawirotomo yang tampil di belakang Bregada Prajurit Jogokaryo beranggotakan para prajurit yang memiliki kelebihan dibanding prajurit lainnya. Kisah keberadaan bregada ini berasal dari sekitar 1000 orang anggota Laskar Mataram yang membantu Pangeran Mangkubumi dalam pertempuran melawan Kompeni Belanda. Laskar ini selalu berhasil gemilang dalam setiap pertempuran, sehingga mendapatkan nama Prawirotomo. Bregada ini menggunakan seragam berbentuk sikepan berwarna hitam serta celana pendek merah diluar celana panjang putih, sepatu lars hitam serta topi hitam berbentuk kerang. Benderanya bernama Geniroga atau Bantheng Ketaton, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Trisula. Dilengkapi dengan perangkat musik tambur, seruling dan terompet yang mengumandangkan lagu Pandeburg dan Mars Balang. Senapan api adalah senjata utama yang melengkapi Prajurit Prawirotomo. Ciri nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata “Prawiro”.
Terdiri atas 4 perwira berpangkat panji, 4 bintara berpangkat sersan, 72 orang prajurit dan seorang pembawa duaja. Pakaian yang dikenakan adalah topi hitam berbentuk mete, destar wulung, beskap hitam, baju dalam merah. Sayak putih, lonthong merah, kamus hitam, celana atas merah bawah putih. Bengkap hitam, kaos kaki hitam. Sepatu fantopel hitam. Persenjataan yang dipakai berupa bedil dan keris branggah. Nama bendera GENIROGO dasar hitam di tengah ada gambar plentong warna merah. Nama musik Mares BALANG, berjalan pelan dengan digayakan, Mares PANDHEBRUG, berjalan dengan cepat.
http://primantoro.web.id/wp-content/uploads/2011/05/prajurit_prawirotomo_1.jpg
7. BREGADA PRAJURIT KETANGGUNG
Berikutnya adalah Bregada Prajurit Ketanggung. Para prajurit dalam bregada ini pada jamannya bertanggung jawab atas keamanan di lingkungan Keraton, sebagai penuntut perkara, serta berkewajiban mengawal Sultan pada setiap kunjungan keluar Keraton. Seragam Bregada Prajurit Ketanggung berbentuk sikepan dengan corak lurik khas Ketanggung serta celana pendek hitam diluar celana panjang putih, sepatu lars hitam dan topi berbentuk mancungan berwarna hitam yang dihiasi dengan bulu-bulu ayam. Benderanya bernama Cakraswandana, dengan dwaja bernama Kanjeng Kyai Nanggolo. Korps musik bregada prajurit ini dilengkapi dengan perangkat tambur, seruling, terompet dan bende yang mengumandangkan lagu Bergola Milir atau Lintrik Emas dan Harjuno Mangsah atau Bima Kurda. Bregada Prajurit Ketanggung dipersenjatai dengan senapan api dengan bayonet terhunus serta tombak. Ciri nama-nama para prajuritnya selalu disertai dengan kata “Joyo”.
Terdiri atas 4 perwira berpangkat panji, 8 bintara berpangkat sersan, 72 prajurit dan 1 prajurit pembawa duaja. Berseragam jas terbuka, baju dalam putih, mengenakan ikat kepala hitam, topi segi tiga, bersepatu lars panjang. Senjata yang digunakan adalah bedil dengan bayonet terhunus dan keris dipinggang.
Nama bendera: COKRO SEWANDONO, Dasar hitam, tengah bergambar bintang warna putih. Nama musik: Mares BERGOLO MILIR untuk berjalan pelan dan digayakan, Mares LINTRIK EMAS untuk berjalan cepat
http://primantoro.web.id/wp-content/uploads/2011/05/prajurit_ketanggung_3.jpg
8. BREGADA PRAJURIT MANTRIJERO
Bregada Prajurit Mantrijero terdiri atas 8 perwira berpangkat panji, 8 bintara berpangkat sersan, 64 prajurit dan seorang membawa duaja. Komandan pasukan ini berpangkat bupati. Seragamnya jas buka dengan kain lurik bergaris hitam putih, berbaju dalam putih, bercelana putih, kaos kaki panjang putih dan bersepatu. Mengenakan ikat kepala warna hitam dengan topi semacam songkok warna hitam.
Persenjataannya berupa bedil. Nama bendera PURNOMOSIDI, Dasar hitam, tengah bergambar plentong warna putih. Nama musik Mares SLENGGANDIRI, untuk berjalan pelan dengan di gayakan dan Mares PLANGKENAN (RESTOG), untuk berjalan cepat.
http://primantoro.web.id/wp-content/uploads/2011/05/prajurit_mantrijero_3.jpg
9. BREGADA PRAJURIT NYUTRO
Terdiri atas 8 perwira berpangkat panji, 8 bintara berpangkat sersan, 46 prajurit dan 2 orang pembawa duaja. Seragam yang dipakai berupa baju lengan pendek, celana dan dodot atau kampuh kain dengan motif bango tulak, tutup kepala memakai udheng gilig. Persenjataan yang digunakan berupa bedil dan tombak. Pada mulanya kesatuan ini tidak memakai alas kaki dan mempunyai dua seragam yang berbeda yang satu berwarna hitam yang satunya berwarna merah. Ada dua macam bendera dalam parajurit Nyutra yaitu PODANG NGISEP SARI, dasar kuning, di tengah ada gambar plentong berwarna merah dan PADMO SRI KRESNO, dasar kuning, di tengah bergambar plentong warna merah.
Nama musik: Mares MBAT-EMBAT PENJALIN, dengan iringan gamelan untuk memperagakan tarian tayungan, Mares, TAMTOMO BALIK, berjalan pelan dengan digayakan dan Mares SORENGPRANG untuk berjalan cepat.
http://primantoro.web.id/wp-content/uploads/2011/05/prajurit_nyutro_2.jpg
10. BREGADA PRAJURIT JAGER
Kata jager berasal dari bahasa Belanda yang beraarti pemburu. Terdiri atas seorang perwira berpangkat panji, dua orang bintara berpangkat sersan dan 58 prajurit. Pakaian ini tidak mempunyai seragam khusus, yang dipakai dalam tugas sehari-hari adalah pakaian adat jawa. Persenjataannya berupa bedil. Kesatuan ini tidak mempunyai duaja atau bendera.
11. BREGADA PRAJURIT LANGENASTRO
Kesatuan ini bertugas mengawal sultan pada upacara garebeg. Prajurit Langenastro merupakan prajurit tambahan yang dimasukkan kedalam kesatuan Mantrijeron. Atribut yang dipakai sama dengan prajurit Mantrijero, kecuali persenjataannya prajurit Langenastro tidak berupa bedil seperti prajurit Mantrijero namun sebilah pedang.
12. BREGADA PRAJURIT SUROKARSO
Bregada Prajurit Surokarso Terdiri atas seorang perwira berpangkat penewu, 64 prajurit dan seorang membawa duaja. Seragam berupa baju lengan panjang berwarna putih dengan celana panjang dan kain bermotif gebyar. Memakai ikat kepala teleng kewengen (kain berwarna hitam ditengah putih dan ditepinya bergaris-garis putih).
Persenjataannya berupa tombak. Prajurit Surokarso bertugas mengawal putra mahkota, dewasa ini bertugas sebagai pengawal kehormatan sesajian gunungan pada upacara garebeg. Nama bendera PAREANOM, dasar hijau, tengah gambar plentong warna kuning. Nama musik Mares PLANGKENAN
http://primantoro.web.id/wp-content/uploads/2011/05/prajurit_surokarso_5.jpg
13. BREGADA PRAJURIT BUGIS
Disebut prajurit Bugis karena semula seluruh anggota kesatuan ini berasal dari suku Bugis. Tugas kesatuan ini adalah mengawal seorang patih dan mengawal dalam upacara-upacara garebeg dan lainnya. Seragamnya berupa jas tutup berwarna hitam, celana panjang hitam, serta mengenakan ikat kepala kain hitam dan topi hitam. Persenjataannya berupa tombak. Nama bendera WULANDADARI, dasar hitam, di tengah bergambar plentong warna kuning. Nama musik Mares ENDROLOKO.
http://primantoro.web.id/wp-content/uploads/2011/05/prajurit_bugis.jpg
*dari berbagai sumber
kaskus.us
Kamis, 09 Desember 2010
Budidaya Jangkrik
Dewasa ini pada masa krisis ekonomi di Indonesia, budidaya jangkrik (Liogryllus Bimaculatus) sangat gencar, begitu juga dengan seminar-seminar yang diadakan dibanyak kota. Kegiatan ini banyak dilakukan mengingat waktu yang dibutuhkan untuk produksi telur yang akan diperdagangkan hanya memerlukan waktu ± 2-4 minggu. Sedangkan untuk produksi jangkrik untuk pakan ikan dan burung maupun untuk diambil tepungnya, hanya memerlukan 2- 3 bulan. Jangkrik betina mempunyai siklus hidup ± 3 bulan, sedangkan jantan kurang dari 3 bulan. Dalam siklus hidupnya jangkrik betina mampu memproduksi lebih dari 500 butir telur.
Penyebaran jangkrik di Indonesia adalah merata, namun untuk kota-kota besar yang banyak penggemar burung dan ikan, pada awalnya sangat tergantung untuk mengkonsumsi jangkrik yang berasal dari alam, lama kelamaan dengan berkurangnya jangkrik yang ditangkap dari alam maka mulailah dicoba untuk membudidayakan jangkrik alam dengan diternakkan secara intensif dan usaha ini banyak dilakukan dikota-kota dipulau jawa.
2. SENTRA PETERNAKAN
Telah diutarakan didepan bahwa untuk sementara ini, sentra peternakan jangkrik adalah dikota-kota besar dipulau jawa karena kebutuhan dari jangkrik sangat banyak. Sedangkan diluar pulau jawa sementara ini masih banyak didapatkan dari alam, sehingga belum banyak peternakan-peternakan jangkrik.
3. J E N I S
Ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalah Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus, untuk pakan ikan dan burung. Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, dimana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek disamping itu Gryllus Mitratus mempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang.
4. MANFAAT
Jangkrik segar yang sudah diketahui baik untuk pakan burung berkicau seperti poksay, kacer dan hwambie serta untuk pakan ikan, baik juga untuk pertumbuhan udang dan lele dalam bentuk tepung.
5. PERSYARATAN LOKASI
1) Lokasi budidaya harus tenang, teduh dan mendapat sirkulasi udara yang baik.
2) Lokasi jauh dari sumber-sumber kebisingan seperti pasar, jalan raya dan lain sebagainya.
3) Tidak terkena sinar matahari secara langsung atau berlebihan.
6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
Menurut Farry, 1999, ternak jangkrik merupakan jenis usaha yang jika tidak direncanakan dengan matang, akan sangat merugikan usaha. Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan dalam merencanakan usaha ternak jangkrik, yaitu penyusunan jadwal kegiatan, menentukan struktur organisasi, menentukan spesifikasi pekerjaan, menetapkan fasilitas fisik, merencanakan metoda pendekatan pasar, menyiapkan anggaran, mencari sumber dana dan melaksanakan usaha ternak jangkrik.
6.1.
Penyiapan Sarana dan Peralatan
Karena jangkrik biasa melakukan kegiatan diwaktu malam hari, maka kandang jangkrik jangan diletakkan dibawah sinar matahari, jadi letakkan ditempat yang teduh dan gelap. Sebaiknya dihindarkan dari lalu lalang orang lewat terlebih lagi untuk kandang peneluran.
Untuk menjaga kondisi kandang yang mendekati habitatnya, maka dinding kandang diolesi dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering seperti daun pisang, daun timbul, daun sukun dan daun-daun lainnya untuk tempat persembunyian disamping untuk menghindari dari sifat kanibalisme dari jangkrik. Dinding atas kandang bagian dalam sebaiknya dilapisi lakban keliling agar jangkrik tidak merayap naik sampai keluar kandang.
Disalah satu sisi dinding kandang dibuat lubang yang ditutup kasa untuk memberikan sirkulasi udara yang baik dan untuk menjaga kelembapan kandang. Untuk ukuran kotak pemeliharaan jangkrik, tidak ada ukuran yang baku. Yang penting sesuai dengan kebutuhan untuk jumlah populasi jangkrik tiap kandang. Menurut hasil pemantauan dilapangan dan pengalaman peternak, bentuk kandang biasanya berbentuk persegi panjang dengan ketinggian 30-50 cm, lebar 60-100 cm sedangkan panjangnya 120-200 cm.
Kotak (kandang) dapat dibuat dari kayu dengan rangka kaso, namun untuk mengirit biaya, maka dinding kandang dapat dibuat dari triplek. Kandang biasanya dibuat bersusun, dan kandang paling bawah mempunyai minimal empat kaki penyangga. Untuk menghindari gangguan binatang seperti semut, tikus, cecak dan serangga lainnya, maka keempat kaki kandang dialasi mangkuk yang berisi air, minyak tanah atau juga vaseline (gemuk) yang dilumurkan ditiap kaki penyangga.
6.2.
Peyiapan Bibit
1) Pemilihan Bibit Calon Induk
Bibit yang diperlukan untuk dibesarkan haruslah yang sehat, tidak sakit, tidak cacat (sungut atau kaki patah) dan umurnya sekitar 10-20 hari. Calon induk jangkrik yang baik adalah jangkrik-jangkrik yang berasal dari tangkapan alam bebas, karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalaupun
induk betina tidak dapat dari hasil tangkapan alam bebas, maka induk dapat dibeli dari peternakan. Sedangkan induk jantan diusahakan dari alam bebas, karena lebih agresif. Adapun ciri-ciri indukan, induk betina, dan induk jantan yang adalah sebagai berikut:
a.
Indukan :
- sungutnya (antena) masih panjang dan lengkap.
- kedua kaki belakangnya masih lengkap.
- bisa melompat dengan tangkas, gesit dan kelihatan sehat.
- badan dan bulu jangkrik berwarna hitam mengkilap.
- pilihlah induk yang besar.
- dangan memilih jangkrik yang mengeluarkan zat cair dari mulut dan duburnya apabila dipegang.
b. Induk jantan :
- selalu mengeluarkan suara mengerik.
- permukaan sayap atau punggung kasar dan bergelombang.
- tidak mempunyai ovipositor di ekor.
- Induk betina:
- tidak mengerik.
- permukaan punggung atau sayap halus.
- ada ovipositor dibawah ekor untuk mengeluarkan telur.
2) Perawatan Bibit dan Calon Induk
Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari kotak penetasan berumur 10 hari harus benar-benar diperhatikan dan dikontrol makanannya, karena pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga kalau makanannya kurang, maka anakan jangkrik akan menjadi kanibal memakan anakan yang lemah. Selain itu perlu juga dikontrol kelembapan udara serta binatang pengganggu, yaitu, semut, tikus, cicak, kecoa dan laba-laba. Untuk mengurangi sifat kanibal dari jangkrik, maka makanan jangan sampai kurang. Makanan yang biasa diberikan antara lain ubi, singkong, sayuran dan dedaunan serta diberikan bergantian setiap hari.
3) Sistem Pemuliabiakan
Sampai saat ini pembiakan Jangkrik yang dikenal adalah dengan mengawinkan induk jantan dan induk betina, sedangkan untuk bertelur ada yang alami dan ada juga dengan cara caesar. Namun risiko dengan cara caesar induk betinanya besar kemungkinannya mati dan telur yang diperoleh tidak merata tuanya sehingga daya tetasnya rendah.
4) Reproduksi dan Perkawinan
Induk dapat memproduksi telur yang daya tetasnya tinggi ± 80-90 % apabila diberikan makanan yang bergizi tinggi. Setiap peternak mempunyai ramuanramuan yang khusus diberikan pada induk jangkrik antara lain: bekatul jagung, ketan item, tepung ikan, kuning telur bebek, kalk dan kadang-kadang ditambah dengan vitamin. Disamping itu suasana kandang harus mirip dengan habitat alam bebas, dinding kandang diolesi tanah liat, semen putih dan lem kayu, dan diberi daun-daunan kering seperti daun pisang, daun jati, daun tebu dan serutan kayu.
Jangkrik biasanya meletakkan telurnya dipasir atau tanah. Jadi didalam kandang khusus peneluran disiapkan media pasir yang dimasukkan dipiring kecil. Perbandingan antara betina dan jantan 10 : 2, agar didapat telur yang daya tetasnya tinggi. Apabila jangkrik sudah selesai bertelur sekitar 5 hari, maka telur dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan induknya kemudian kandang bagiab dalam disemprot dengan larutan antibiotik (cotrymoxale).Selain peneluran secara alami, dapat juga dilakukan peneluran secara caesar. Akan tetapi kekurangannya ialah telur tidak merata matangnya (daya tetas).
5) Proses Kelahiran
Sebelum penetasan telur sebaiknya terlebih dahulu disiapkan kandang yang permukaan dalam kandang dilapisi dengan pasir, sekam atau handuk yang lembut. Dalam satu kandang cukup dimasukkan 1-2 sendok teh telur dimana satu sendok teh telur diperkirakan berkisar antara 1.500-2.000 butir telur. Selama proses ini berlangsung warna telur akan berubah warna dari bening sampai kelihatan keruh. Kelembaban telur harus dijaga dengan menyemprot telur setiap hari dan telur harus dibulak-balik agar jangan sampai berjamur. Telur akan menetas merata sekitar 4-6 hari.
6.3.
Pemeliharaan
1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Seperti telah dijelaskan diatas bahwa dalam pengelolaan peternakan jangkrik ini sanitasi merupakan masalah yang sangat penting. Untuk menghindari adanya zat-zat atau racun yang terdapat pada bahan kandang, maka sebelum jangkrik dimasukkan kedalam kandang, ada baiknya kandang dibersihkan terlebih dahulu dan diolesi lumpur sawah. Untuk mencegah gangguan hama, maka kandang diberi kaki dan setiap kaki masing-masing dimasukkan kedalam kaleng yang berisi air.
2) Pengontrolan Penyakit
Untuk pembesaran jangkrikn dipilih jangkrik yang sehat dan dipisahkan dari yang sakit. Pakan ternak harus dijaga agar jangan sampai ada yang berjamur karena dapat menjadi sarang penyakit. Kandang dijaga agar tetap lembab tetapi tidak basah, karena kandang yang basah juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit.
3) Perawatan Ternak
Perawatan jangkrik disamping kondisi kandang yang harus diusahakan sama dengan habitat aslinya, yaitu lembab dan gelap, maka yang tidak kalah pentingnya adalah gizi yang cukup agar tidak saling makan (kanibal).
4) Pemberian Pakan
Anakan umur 1-10 hari diberikan Voor (makanan ayam) yang dibuat darikacang kedelai, beras merah dan jagung kering yang dihaluskan. Setelah vase ini, anakan dapat mulai diberi pakan sayur-sayuran disamping jagung muda dan gambas.
Sedangkan untuk jangkrik yang sedang dijodohkan, diberi pakan antara lain : sawi, wortel, jagung muda, kacang tanah, daun singkong serta ketimun karena kandungan airnya tinggi. Bahkan ada juga yang menambah pakan untuk ternak yang dijodohkan anatar lain : bekatul jagung, tepung ikan, ketan hitam, kuning telur bebek, kalk dan beberapa vitamin yang dihaluskan dan dicampur menjadi satu.
5) Pemeliharaan Kandang
Air dalam kaleng yang terdapat dikaki kandang, diganti setiap 2 hari sekali dan kelembapan kandang harus diperhatikan serta diusahakan agar bahaya jangan sampai masuk kedalam kandang.
7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1.
Penyakit, Hama dan Penyebabnya
Sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik. Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil, tikus, cicak, katak dan ular.
7.2.
Pencegahan Serangan Hama dan Penyakit
Untuk menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik dapat diatasi dengan membuat dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak tanah atau mengoleskan gemuk pada kaki kandang.
7.3.
Pemberian Vaksinasi dan Obat
Untuk saat ini karena hama dan penyakit dapat diatasi secara prefentif, maka penyakit jangkrik dapat ditekan seminimum mungkin. Jadi pemberian obat dan vaksinasi tidak diperlukan.
8. P A N E N
8.1.
Hasil Utama
Peternak jangkrik dapat memperoleh 2 (dua) hasil utama yang nilai ekonomisnya sama besar, yaitu: telur yang dapat dijual untuk peternak lainnya dan jangkrik dewasa untuk pakan burung dan ikan serta untuk tepung jangkrik.
8.2. Hasil Tambahan
Telur yang sudah diletakkan oleh induknya pada media pasir atau tanah, disaring dan ditempatkan pada media kain yang basah. Untuk setiap lipatan kain basah dapat ditempatkan 1 sendok teh telur yang kemudian untuk diperjual belikan.
Sedangkan untuk jangkrik dewasa umur 40-55 hari atau 55-70 hari dimana tubuhnya baru mulai tumbuh sayap, ditangkap dengan menggunakan tangan dan dimasukkan ketempat penampungan untuk dijual.
9. PASCA PANEN
—
10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
10.1. Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis usaha domba selama 136 hari di Bogor tahun 1995 adalah sebagai berikut:
1) Biaya produksi
a. Biaya Tidak Tetap
- Indukan
- Induk Jantan 1.000 ekor @ Rp.700,- Rp . 700.000,-
- Induk Betina 5.000 ekor @ Rp. 500,-
Rp. 2.500.000,-
- Makanan dan Vitamin
- Sayuran
Rp. 100.000,-
- Konsentrat 10 kg @ Rp.5.000,- Rp. 50.000,-
- Vitamin 10 btl @ Rp. 5.000,- Rp. 50.000,-
- Tenaga Kerja 60 HOK @ Rp. 10.000,- Rp. 600.000,-
b.
Biaya Tetap
- Bunga modal Investasi 20 %/ th Rp. 118.916,67
- Bunga biaya tidak tetap 20 %/ th Rp. 133.333,33
- Penyusutan kotak Rp. 38.583,33
- Penyusutan alat Rp. 7.875,-
- Pemeliharaan kotak + alat 5 %/ th Rp. 2.322,92
- Sewa Lokasi Rp. 250.000,-
- Listrik Rp. 50.000,-
Jumlah biaya produksi Rp. 4.601.031,25,-
2) Pendapatan 830 sdm @ Rp. 10.000,- Rp. 8.300.000,-
3) Keuntungan Rp. 3.698.968,75
4) Parameter kelayakan usaha
– B/C ratio = 1,8
Berikut ini adalah analisis usaha pembesaran jangkrik sebanyak 100 kotak untuk 1 periode pada tahun 1999.
1)
Biaya Produksi
a.
Biaya Tidak Tetap
- Telur 100 sdk @ Rp.10.000,-
Rp. 1.000.000,-
- Makanan dan Vitamin
- Sayuran
Rp. 300.000,-
- Konsentrat50 kg @ Rp. 5.000,-
Rp. 250.000,-
- Vitamin50 btl @ Rp. 5.000,-
Rp. 250.000,-
- Tenaga Kerja300 HOK @ Rp.10.000,-
Rp. 3.000.000,-
b.
Biaya Tetap
- Bunga modal Investasi 20 %/ th
Rp. 360.800,-
- Bunga biaya tidak tetap 20 %/ th
Rp. 240.000,-
- Penyusutan kotak
Rp. 455.625,-
- Penyusutan alat + bahan
Rp. 71.375,-
- Pemeliharaan kotak 5 %/ th
Rp. 52.700,-
- Sewa Lokasi
Rp. 375.000,-
- Listrik
Rp. 50.000,-
Jumlah biaya produksi
Rp. 6.404.700,-
2)
Penghasilan 830 sdm @ Rp. 10.000,-
Rp.12.000.000,-
3)
Keuntungan
Rp. 5.595.300,-
4) Parameter kelayakan usaha
- B/C ratio
= 1,87
10.2.
Gambaran Peluang Agribisnis
Penggunaan pestisida yang selama ini didapati pada lahan-lahan pertanian merupakan salah satu penyebab berkurangnya populasi jangkrik, demikian juga penangkapan jangkrik dialam yang dilakukan selama ini membuat penurunan drastis jumlah populasinya.
Dengan alasan-alasan tersebut dan naiknya permintaan jangkrik, maka peternak tidak membiarkan begitu saja kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan membudidayakan jangkrik dengan intensif karena dengan waktu yang relatif singkat untuk memelihara jangkrik sudah mendapat keuntungan yang berlipat ganda.
Dengan semakin banyaknya peternak-peternak jangkrik ini, permintaan untuk telur jangkrik semakin besar juga, jadi banyak peternak yang hanya memproduksi telur jangkrik karena resikonya lebih kecil dan lebih cepat lagi mendapatkan laba untuk sekitar 25-30 hari, dibandingkan proses pembesaran sampai dengan 3 bulan.
11. DAFTAR PUSTAKA
1)
Anonim, Bisnis Telur Jangkrik, Info Peluang No. 33, Edisi 1 Juli 1999
2)
———-, Beternak Jangkrik Ala Samin, Info Agribisnis Trubus No.354, Edisi Mei 1999
3)
———-, Jangkrik Peliha Untuk Tangkar, Info Agribisnis Trubus No. 355, Edisi Juni – 1999.
4)
———-, Langkah Demi Langkah Beternak Jangkrik Produktif, Info Agribisnis Trubus-No. 356, Edisi Juli 1999.
5)
Adihendro, Rahasia Beternak Jangkrik, Ardy Agency, Jakarta, 1999.
6)
Arnett, Russ H., Jr. and Richard L. Jacques., Jr, Guide To Insects ( New York : Simon – and Schuster Inc., 1981)
7)
Borror, Donald J., Charles A. Triplehorn, Norman F. Johnson, Pengenalan Pelajaran -
8)
Serangga, Edisi 6, terjemahan Soetiyono Partosoedjono ( Yagyakarta; Universitas-Gajah Mada Press, 1992 ).
9)
Paimin B. Farry dan Pudjastuti L.E, Sukses Beternak Jangkrik, Penebar Swadaya, Jakarta, 1999.
Senin, 08 November 2010
Selasa, 25 Mei 2010
Kamis, 29 April 2010
6 KESALAHAN FRESH GRADUATE DI TEMPAT KERJA
1. Karena saya bergelar sarjana, saya tak perlu berurusan dengan hal-hal yang remeh
Ini pemikiran yang salah. Kebanyakn fresh graduate justru memulai dari bawah. Apapun gelar Anda, cara terbaik untuk mempelajari bisnis adalah dengan merangkak dari bawah, mengerjakan hal-hal kecil yang dianggap "kurang penting". Tenang saja, jika Anda mengerjakan tugas ini dengan baik, Anda pasti akan diberi tugas yang jauh lebih menantang.
2. Berpikiran sempit
Mahasiswa biasanya sangat idealis. Mereka punya opini pro atau kontra terhadap semua hal, dan memegang teguh pandangannya itu. Sedangkan di tempat kerja, kita dituntut untuk mempertimbangkan semua pilihan, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya.
3. Menganggap enteng social media
Para fresh graduate biasanya tidak memikirkan dampak dari isi Facebook dan Twitter mereka terhadap pekerjaan. Bukan hanya bisa merusak imej profesional, menggunakan social media dengan kurang bijak bisa membuat Anda dipecat.
4. Menunda-nunda
Saat kuliah, jika Anda menunda mengerjakan tugas hingga mepet deadline, hanya Anda yang akan dirugikan. Sementara di tempat kerja, jika Anda menunda pekerjaan, pekerjaan orang lain pun akan ikut terganggu. Imej Anda di mata atasan pun akan rusak.
5. Tidak bergaul dengan senior
Memang lebih asyik makan siang dengan rekan-rekan kerja yang seumuran. Tapi jika ingin mendaki tangga karier dengan lebih cepat, Anda juga harus bergaul dengan para senior.
6. Lupa berterima kasih
Sekecil apapun bantuan yang diberikan oleh rekan kerja atau atasan Anda, jangan pernah lupa untuk mengucapkan terima kasih secara tulus. Jika Anda terkesan tidak peduli, mereka akan berpikir dua kali jika harus membantu Anda lagi.
http://mim.yahoo.com/yahooindonesia/p/w_Chaoq/?cid=idtd
Kamis, 22 April 2010
Versi Windows 7
* Windows 7 Home Basic
* Windows 7 Home Premium
* Windows 7 Professional
* Windows 7 Ultimate
* Windows 7 Enterprise
* Windows 7 Starter
Menginstall Windows 7 Beta
Misalnya nanti akses registrasi untuk mendapatkan product key telah habis waktunya, bisa dicoba menggunakan Windows 7 Beta Product Key yang berdasarkan pengalaman registrasi saya ternyata hanya menyediakan beberapa kode yang sama dan masing-masing dapat digunakan berulang-ulang.
Hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan download dan mencoba menginstall adalah spesifikasi komputer minimum yang direkomendasikan agar nantinya Windows 7 Beta dapat berjalan. Berdasarkan informasi di situs Windows 7, spesifikasi minimum yang direkomendasikan adalah sebagai berikut:
*
1 GHz 32-bit or 64-bit processor
*
1 GB of system memory
*
16 GB of available disk space
*
Support for DirectX 9 graphics with 128 MB memory (to enable the Aero theme)
*
DVD-R/W Drive
*
Internet access (to download the Beta and get updates)
Penting juga diperhatikan selain spesifikasi tersebut adalah ketersediaan driver untuk hardware yang digunakan. Pada beberapa berita mungkin dituliskan jika Windows 7 beta sudah mendukung banyak driver hardware, dan bisa jadi memang begitu, tetapi bukan berarti untuk semua hardware. Untuk hardware-hardware tertentu ada kemungkinan tetap tidak dapat diinstall dengan driver yang sesuai baik melalui akses update driver online Windows maupun pada vendor hardware tersebut. Misalnya ketika saya menginstall pada notebook lama Compaq V2014, driver untuk video, audio, dan wifi, tidak ditemukan. Yang mungkin dapat dijadikan patokan, jika misalnya suatu hardware sudah didukung driver untuk Windows Vista, kemungkinan besar sudah pula tersedia driver untuk Windows 7 Beta.
Mengenai kapasitas hardisk, besar ruang 16 GB tersebut sudah termasuk besar kapasitas untuk menginstall software-software yang sekiranya diperlukan, dan untuk murni kapasitas yang dikonsumsi setelah hasil install Windows 7 Beta adalah sekitar 10 GB. Selain memperhatikan ruang hardisk yang diperlukan untuk lokasi install Windows 7 Beta, perlu pula diketahaui bahwa Windows 7 Beta memerlukan ruang pada partisi sistem (partisi yang mengandung boot sector) setidaknya sebesar 200 MB sebagai lokasi boot loader dan program recovery. Partisi sistem ini mungkin akan sama dengan partisi boot (partisi di mana file-file sistem operasi diletakkan), tetapi bisa jadi berbeda seperti yang berlaku pada komputer yang saya gunakan seperti gambar berikut:
Image149
Di sini besar partisi sistem hanya sebesar 7 MB, dan ketika memilih partisi lain yang akan dijadikan lokasi instalasi Windows 7 Beta, maka akan medapatkan “Setup unable to use the existing system partition because it does not contain the required free space.” Untuk mengatasinya maka partisi sistem harus diperbesar menggunakan bantuan software partition manager seperti GParted atau Easeus. Berdasarkan pengalaman, beberapa kali mencoba memperbesar partisi sistem dengan Gparted berakhir dengan error, namun berlangsung lancar ketika menggunakan Easeus Partition Manager.
Ketika segala sesuatunya telah siap termasuk juga mempertimbangkan bahwa Windows 7 Beta bukanlah produk jadi, maka proses instalasi dapat dilakukan melalui DVD hasil burning file .iso yang didownload dan mengatur komputer untuk booting melalui DVD tersebut.
Foto-foto tampilan layar berikut menggambarkan proses instalasi yang pernah saya lakukan untuk menjadikan komputer dual booting antara Windows Vista dengan Windows 7 Beta.
Image162
Layar pertama yang muncul setelah proses booting dengan DVD Windows 7 Beta.
Image163
Mengklik “Insall Now” kecuali ingin membaca apa yang perlu diketahui sebelum menginstall. Dokumen yang ditampilkan masih berisi materi untuk Windows Vista.
Image165
Layar persetujuan lisensi Microsoft Pre-release Software.
Image166
Memilih tipe instalasi, apakah untuk mengupgrade (yang dapat dilakukan dari Windows Vista SP1) atau tipe Custom. Pilihan Custom (advanced) inilah yang saya pilih karena akan melakukan instalasi baru Windows 7 Beta pada partisi yang akan saya tentukan sendiri.
Image167
Memilih partisi yang akan digunakan yang saya sediakan sebesar 20 GB. Sebelumnya partisi ini belum diformat (unallocated space) dan saya mencoba menggunakan fasilitas format yang disediakan dengan mengklik Drive options. Di sini dapat dilihat pula besar partisi sistem masih tersisa 706 MB, jadi sudah cukup memenuhi syarat 200 MB yang diperlukan oleh Windows 7 Beta.
Image170
Tampilan ketika proses intalasi berlangsung. Selanjutnya tinggal menunggu sampai selesai. Pada tahap ini komputer akan melakukan restart (berdasarkan hitungan saya sebanyak dua kali) dan melanjutkan proses install sampai selesai.
Image171
Salah satu tampilan ketika proses intalasi setelah restart dan hampir selesai.
Image172
Tampilan boot manager untuk memilih apakah saya akan booting Windows 7 Beta atau Windows Vista. Secara default, hasil instalasi akan menjadikan komputer booting dengan Windows 7 jika tidak memilih dalam waktu 30 detik.
Mohon maaf jika foto yang ditampilkan berkualitas jelek karena menggunakan kamera telepon genggam. Jika tidak ada halangan pada posting berikutnya mungkin akan saya bagi hasil screenshot layar Windows 7 Beta.
Kamis, 25 Februari 2010
Saka Bakti Husada
SATUAN KARYA PRAMUKA BAKTI HUSADA
(SAKA BAKTI HUSADA)
Satuan Karya Pramuka (Saka) Bakti Husada adalah wadah pengembangan pengetahuan, pembinaan keterampilan, penambahan pengalaman dan pemberian kesempatan untuk membaktikan dirinya kepada masyarakat dalam bidang kesehatan.
Saka Bakti Husada diresmikan pada tanggal 17 Juli 1985, dengan dilantiknya Pimpinan Saka Bakti Husada Tingkat Nasional.
Tujuan dibentuknya Saka Bakti Husada adalah untuk mewujudkan kader pembangunan di bidang kesehatan, yang dapat membantu melembagakan norma hidup sehat bagi semua anggota Gerakan Pramuka dan masyarakat di lingkunganya.
Kegiatan kesakaan dilaksanakan di gugusdepan dan satuan karya Pramuka disesuaikan dengan usia dan kemampuan jasmani dan rohani peserta didik. Kegiatan pendidikan tersebut dilaksanakan sedapat-dapatnya dengan praktek berupa kegiatan nyata yang memberi kesempatan peserta didik untuk menerapkan sendiri pengetahuan dan kecakapannya dengan menggunakan perlengkapan yang sesuai dengan keperluannya.
Yang dapat menjadi anggota Saka Bakti Husada adalah :
* Pramuka penggalang, usia 14 tahun ke atas, yang sudah mencapai tingkat Penggalang Terap.
* Pemuda berusia 16-23 tahun, dengan syarat khusus
* Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega
* Pamong Saka dan Instruktur tetap.
Saka Bakti Husada meliputi 5 (lima) krida, yaitu :
1. Krida Bina Lingkungan Sehat
2. Krida Bina Keluarga Sehat
3. Krida Penanggulangan Penyakit
4. Krida Bina Gizi
5. Krida Bina Obat.
Krida Bina Lingkungan Sehat, terdiri atas 5 (lima) SKK :
1. SKK Penyehatan Perumahan
2. SKK Penyehatan Makanan dan Minuman
3. SKK Pengamanan Pestisida
4. SKK Pengawasan Kualitas Air
5. SKK Penyehatan Air.
Krida Bina Keluarga Sehat, terdiri atas 6 (enam) SKK :
1. SKK Kesehatan Ibu
2. SKK Kesehatan Anak
3. SKK Kesehatan Remaja
4. SKK Kesehatan Usia Lanjut
5. SKK Kesehatan Gigi dan Mulut
6. SKK Kesehatan Jiwa.
Krida Penanggulangan Penyakit, mempunyai 8 (delapan) SKK :
1. SKK Penanggulangan Penyakit Malaria
2. SKK Penanggulangan Penyakit Demam Berdarah
3. SKK Penanggulangan Penyakit Anjing Gila
4. SKK Penanggulangan Penyakit Diare
5. SKK Penanggulangan Penyakit TB. Paru
6. SKK Penanggulangan Penyakit Kecacingan
7. SKK Imunisasi
8. SKK Gawat Darurat.
Krida Bina Gizi, mempunyai 5 (lima) SKK :
1. SKK Perencanaan Menu
2. SKK Dapur Umum Makanan/Darurat
3. SKK UPGK dalam Pos Pelayanan Terpadu
4. SKK Penyuluh Gizi
5. SKK Mengenal Keadaan Gizi.
Krida Bina Obat, meliputi 5 (lima) SKK :
1. SKK Pemahaman Obat
2. SKK Taman Obat Keluarga
3. SKK Pencegahan dan Penanggulangan Penyalahgunaan Zat Adiktif
4. SKK Bahan Berbahaya bagi Kesehatan
5. SKK Pembinaan Kosmetik
Hasil yang diharapkan setelah mengikuti kegiatan Saka Bakti Husada adalah :
* Memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman di bidang Kesehatan
* Mampu dan mau menyebarluaskan informasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya mengenai :
1. kesehatan lingkungan
2. kesehatan keluarga
3. penaggulangan berbagai penyakit
4. gizi
5. manfaat dan bahaya obat.
* Mampu memberikan latihan tentang kesehatan kepada para Pramuka di gugusdepan.
* Dapat menjadi contoh hidup sehat bagi masyarakat di lingkungannya
* Memiliki sikap dan perilaku hidup sehat yang lebih mantap.
Jumat, 15 Januari 2010
Pinguin
Di daratan mereka berjalan berkedek-kedek kaku. Di area ber-es atau bersalju, pinguin berselorotan dengan perut mereka dan mengayuhkan diri mereka dengan sayap.
Anak-anak pinguin menetas hanya dengan sebuah selaput tipis yang menutupi kulit yang halus, dan mereka belum mampu mengatur suhu tubuh mereka sendiri atau mencari makanan. Orang tua berada dipunggung mereka atau melingkupi mereka untuk menyalurkan kehangatan ke anak-anak mereka, disebut pengeraman. Sebagian besar penguin bersosialisasi dalam koloni yang sedang mengerami yang dapat berjumlah hingga beberapa ratus ribu pasangan.
Rabu, 18 November 2009
Virus memang menjengkelkan mulai dari virus penyakit yang menyerang manusia sampai virus komputer dan telepon selular atau handphone, terkecuali virus cinta yang bikin kita juga klepek- klepek he..he..
Sekarang ESC creation akan membahas cara mengatasi atau membersihkan virus dari ponsel atau handphone (HP) terutama virus yang menyerang Ponsel type Symbian V.60 yang kebanyakan handphone type nokia.
Kali ini kita fokus membahas cara membersihkan virus yang menyerang ponsel Nokia versi symbian 60 baik versi symbian 1st edition atau symbian 60 2nd edition antara lain Nokia 3230, 3650, 3660, 6600, 7610, 7650, N70 dan type lainya yang menggunakan system versi symbian 60 karena virus yang beredar kebanyakan menyerang ponsel type ini.
Berbagai virus Ponsel symbian antara lain : PBStealer, Virus beseko, Cabir, Locknut, Comwarior, Skulss, Doomboot, Appdisabler, Cardtrap, RommWar dan banyak virus ponsel lainnya.
Banyak macam ulah si virus tersebut antara lain bikin ponsel kita lelet loading, aplikasi tidak bisa dijalankan, mengirim file virus sendiri melalui bluetooth, handphone kita sering restart sendiri, baterey mudah habis, sampai virus yang mengakibatkan ponsel kita mengirim sms sendiri sehingga nomor handphone kita akan diblokir sms keluarnya oleh operator selular (biasanya operator Indosat).
Namun berbagai macam virus itu bisa kita bersihkan atau kita musnahkan dengan cara yang cukup mudah tanpa harus mengeluarkan biaya banyak hingga harus Instalasi Firm ulang atau yang dikenal dengan FLASH Firmware.
Berikut langkah untuk membersihkan virus dari ponsel :
Langkah ini perlu anda lakukan satu persatu karena semua data baik no.telepon , gambar , foto, video akan ikut hilang.
Langkah penyelamatan data
1. Lakukan backup memory nomor telepon yang tersimpan di ponsel dengan menyimpan no telepon tersebut pada SIM CARD yang ada.
2. Simpan data yang ada pada memory handphone termasuk, foto, gambar , audio file , video dengan memindahkan ke komputer.
3. Lepaskan MMC atau memory card dari ponsel dan copykan ke komputer.
Formating Handphone.
1. Matikan handphone anda
2. Ganti SIMCARD dengan SIMCARD yang tidak terpakai.
3. PAstikan Baterey anda terisi penuh.
4. Tekan tombol keypad berikut secara bersamaan yaitu tombol keypad : 3 (angka3) , * (tombol bintang), call (tombol panggil) dan tombol on/off handphone anda. (sebaiknya anda melakukan langkah ini dengan 2 orang bila terjadi kesulitan dalam menekan tombolnya)
5. Tahan tombol tersebut sampai keluar tulisan formating, atau sampai keluar menu Time Zone area (untuk nokia N70)
6. Setelah keluar menu tersebut lepaskan tombol-tombol tersebut dan biarkan proses berjalan.
Setelah proses tersebut selesai maka Ponsel anda sudah seperti ponsel baru lagi dan lenyaplah virus dari handphone anda.
Bila langkah ini tidak berfungsi coba ulangi lagi, atau untuk ponsel type tertentu silahkan ketik *#7370# setelah itu masukan no pin ponsel anda (PIN default 12345)
Formating MMC
1. Pastikan data foto,video, audio(musik) sudah anda copy ke hardisk komputer.
2. Format MMC anda dengan munggunakan komputer dengan system Fat, Quick Format
3. Masukan MMC handphone anda ke handphone dan format sekali lagi MMC dengan menggunakan Handphone
Penyimpanan kembali Data
1. Masukan kembali SIMCARD anda dan masukan kembali no.telepon yang tersimpan pada SIMCARD
2. Masukan kembali file gambar, foto, audio, video pastkan file tersebut aman dari infeksi virus dengan menggunakan anti virus komputer yang bisa mengenali virus symbian seperti anti virus komputer AVAST bisa download di www.avast.com
3. Untuk aplikasi tambahan sebaiknya anda melakukan instalasi ulang aplikasi tersebut.
Dengan langkah langkah di atas maka handphone anda sudah terbebas dari virus seperti baru lagi. Selamat mencoba !!
SANITASI RUMAH SAKIT
Sanitasi, menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai 'pemelihara kesehatan'. Menurut WHO, sanitasi lingkungan (environmental sanitation) adalah upaya pengendalian semua faktor lingkungan fisik manusia yang mungkin menimbulkan atau dapat menimbulkan hal-hal yang merugikan bagi perkem- bangan fisik, kesehatan dan daya tahan hidup manusia. Dalam lingkup Rumah Sakit (RS), sanitasi berarti upaya pengawasan berbagai faktor lingkungan fisik, kimiawi dan biologik di RS yang menimbulkan atau mungkin dapat mengakibatkan pengaruh buruk terhadap kesehatan petugas, penderita, pengunjung maupun bagi masyarakat di sekitar RS. Dari pengertian di atas maka sanitasi RS merupakan upaya dan bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan kesehatan di RS dalam memberikan layanan dan asuhan pasien yang sebaik-baiknya, )(arena tujuan dari sanitasi RS tersebut adalah menciptakan kondisi lingkungan RS agar tetap bersih, nyaman, dan dapat mencegah terjadinya infeksi silang serta tidak mencemari lingkungan. Dalam pelaksanaannya sanitasi RS seringkali ditafsirkan secara sempit, yakni hanya aspek kerumahtanggaan (housekeeping) seperti kebersihan gedung, kamar mandi dan WC, pe-
layanan makanan minuman. Ada juga kalangan yang menganggap bahwa sanitasi RS hanyalah merupakan upaya pemborosan dan tidak berkaitan langsung dengan pelayanan kesehatan di RS. Sehingga seringkali dengan dalih kurangnya dana pembangunan dan pemeliharaan, ada RS yang tidak memiliki sarana pemeliharaan sanitasi, bahkan cenderung mengabaikan masalah sanitasi. Mereka lebih mengutamakan kelengkapan alat-alat kedokteran dan ketenagaan yang spesialistik. Di lain pihak dengan masuknya modal asing dan swasta dalam bidang perumahsakitan kini banyak RS berlomba-lomba untuk menapipilkan citranya melalui kementerengan gedung, kecanggihan peralatan kedokteran serta tenaga dokter spesialis yang qualified, tetapi kurang memperhatikan aspek sanitasi. Sebagai contoh, banyak RS besar yang tidak memiliki fasilitas pengolahan air limbah dan sarana pembakar sampah (incinerator) serta fasilitas cuci tangannya tidak memadai atau sistim pembuangan sampahnya tidak saniter. Apabila hal ini dibiarkan berlarut-larut akan dapat membahayakan masyarakat, baik berupa terjadinya infeksi silang di RS maupun pengaruh buruk terhadap lingkungan dan masyarakat luas. Dari berbagai penelitian diketahui bahwa kejadian infeksi di RS ada hubungannya dengan kondisi RS yang tidak saniter. Untuk itu apabila RS akan menjadi lembaga swadana, aspek sanitasi perlu diperhatikan. Karena di samping dapat mencegah terjadinya pengaruh buruk terhadap lingkungan, juga
secara ekonomis dapat menguntungkan. Sungguh ironis bila RS sebagai tempat penyembuhan, justru menjadi sumber penularan penyakit dan pencemar lingkungan.
KONSEP SANITASI RUMAH SAKIT
Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan yang di dalamnya terdapat bangunan, peralatan, manusia (petugas, pasien dan pengunjung) dan kegiatan pelayanan kesehatan, ternyata di samping dapat menghasilkan dampak positif berupa produk pelayanan kesehatan yang baik terhadap pasien, juga dapat menimbulkan dampak negatif berupa pengaruh buruk kepada manusia seperti pencemaran lingk mgan, sumber penularan penyakit dan menghambat proses penyembuhan dan pemulihan penderita. Untuk itu sanitasi RS diarahkan untuk mengawasi faktor-faktor tersebut agar tidak membahayakan. Dengan demikian, sesuai dengan pengertian sanitasi, lingkup sanitasi RS menjadi luas mencakup upaya-upaya yang bersifat fisik seperti pembangunan sarana pengolahan air limbah, penyediaan air bersih, fasilitas cuci tangan, masker, fasilitas pembuangan sampah, serta upaya non fisik seperti pemeriksaan, pengawasan, penyuluhan, dan pelatihan. Ben Freedman menyebutkan lingkup garapan sanitasi RS meliputi :
A. Aspek Kerumahtanggaan (Housekeeping) seperti :
1. Kebersihan gedung secara keseluruhan.
2. Kebersihan dinding dan lantai.
3. Pemeriksaan karpet lantai.
4. Kebersihan kamar mandi dan fasilitas toilet.
5. Penghawaan dan pembersihan udara.
6. Gudang dan ruangan.
7. Pelayanan makanan dan minuman.
B. Aspek khusus Sanitasi.
1. Penanganan sampah kering mudah terbakar.
2. Pembuangan sampah basah.
3. Pembuangan sampah kering tidak mudah terbakar.
4. Tipe incinerator Rumah Sakit.
5. Kesehatan kerja dan proses-proses operasional.
6. Pencahayaan dan instalasi listrik.
7. Radiasi.
8. Sanitasi linen, sarung dan prosedur pencucian.
9. Teknik-teknik aseptik.
10. Tempat cuci tangan.
11. Pakaian operasi.
12. Sistim isolasi sempurna.
C. Aspek dekontaminasi, disinfeksi dan sterilisasi.
1. Sumber-sumber kontaminasi.
2. Dekontaminasi peralatan pengobatan pernafasan.
3. Dekontaminasi peralatan ruang ganti pakaian.
4. Dekontaminasi dan sterilisasi air,makanan dan alat-alat pengobatan.
5. Sterilisasi kering.
6. Metoda kimiawi pembersihan dan disinfeksi.
7. Faktor-faktor pengaruh aksi bahan kimia.
8. Macam-macam disinfektan kimia.
9. Sterilisasi gas.
D. Aspek pengendalian serangga dan binatang pengganggu.
E. Aspek pengawasan pasien dan pengunjung Rumah Sakit :
1. Penanganan petugas yang terinfeksi.
2. Pengawasan pengunjung Rumah Sakit.
3. Keamanan dan keselamatan pasien.
F. Peraturan perundang-undangan di bidang Sanitasi Rumah Sakit.
G. Aspek penanggulangan bencana.
H. Aspek pengawasan kesehatan petugas laboratorium.
I. Aspek penanganan bahan-bahan radioaktif.
J. Aspek standarisasi sanitasi Rumah Sakit.
Dari lingkup sanitasi yang begitu luas tersebut yang paling penting untuk dikembangkan adalah menyangkut :
a) Program sanitasi kerumahtanggaan yang meliputi penyehatan ruang dan bangunan serta lingkungan RS.
b) Program sanitasi dasar, yang meliputipenyediaan air minum, pengelolaan kotoran cair dan padat, penyehatan makanan dan minuman, pengendalian serangga, tikus dan binatang pengganggu.
c) Program dekontaminasi yang meliputi kontaminasi lingkungan karena mikroba, bahan kimia dan radiasi.
d) Program penyuluhan.
e) Program pengembangan manajemen dan perundang-undangan yang meliputi penyusunan norma dan standar serta pengembangan tenaga sanitasi RS melalui pelatihan, konsultasi.
SAMPAH
Pengertian Sampah
Dengan turut sertanya semua pihak maka tugas dari Pemerintah Daerah dapat diperingan, sehingga tak akan terdapat timbunan-timbunan sampah dalam tempat penimbunan sampah sementara, tak ada sampah yang dibuang di suatu tempat di pinggir sungai atau badan air lainnya, yang dapat menutup sungai dan mencemari air sungai tersebut.
Yang dimaksud dengan sampah (waste) adalah zat-zat / benda-benda tidak berfungsi atau tidak terpakai lagi, baik yang berasal dari rumah-rumah maupun dari sisa-sisa proses industri.
Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama dalam pembikinan atau pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembikinan manufaktur atau matreri berkelebihan atau ditolak atau buangan (Kamus Istilah Lingkungan, 1994).
Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis. (Istilah Lingkungan uyntuk Manajemen, Ecolink, 1996).
Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh pemiliknya atau pemakai semula. Sampah adlah sumberdaya yang tidak siap pakai. Sampah adalah limbah yang bersifat padat, yang terdiri dari zat organic dan zat anorganik, yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. (DPU. 1990).
Sampah adalah semua buangan padat yang dihasilkan dari seluruh kegiatan manusia dan hewan yang tidak berguna atau tidak diinginkan (Tchobanoglous, Theiseen dan Eliassen, 1993).
SANITASI
1. Pengertian sanitasi
Sanitasi adalah bagian dari sistem pembuangan air limbah, yang khususnya menyangkut pembuangan air kotor dari rumah tangga, kantor, hotel, pertokoan (air buangan dari WC, air cucian, dan lain-lain). Selain berasal dari rumah tangga, limbah juga dapat berasal dari sisa-sisa proses industri, pertanian, peternakan, dan rumah sakit (sektor kesehatan).
(Sumber: Said, 1987:12)
2. Pengertian Air limbah
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah.
Beberapa hal yang berkaitan dengan pengertian dan kegiatan yang berhubungan dengan limbah cair menurut (PP 82 thn 2001), yaitu :
a. Air adalah semua air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah, kecuali air laut dan fosil.
b. Sumber air adalah wadah air yang terdapat di atas dan di bawah permukaan tanah seperti akuifer, mata air, sungai, rawa, danau, situ, waduk dan muara.
c. Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemeliharaan air sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukkannya untuk menjamin agar kualitas tetap dalam kondisi alamiahnya.
d. Pengendalian pencemaran air adalah upaya pencegahan dan penanggulangan pencemaran air serta pemulihan kualitas air untuk menjamin kualitas air agar sesuai dengan baku mutu air.
e. Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain kedalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang menyebabkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.
f. Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair.
g. Baku mutu limbah cair adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam limbah cair yang akan dibuang atau dilepas ke dalam sumber air dari suatu usaha atau kegiatan.
h. Limbah cair adalah limbah yang berbentuk air, karena umumnya limbah cair yang dihasilkan oleh voluters baik limbah rumah tangga maupun industri adalah dalam bentuk air yang dibuang ke sungai.
(PP 82 thn 2001).
2.1 Sumber Air Limbah
Air limbah (sewage) juga dapat diartikan sebagai air dan cairan yang merupakan sisa dari kegiatan manusia di rumah tangga/limbah domestik dan commercial buildy (kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan) atau industri. Dari sini, kita dapat mengenal penggolongan air limbah yaitu air limbah industri dan limbah domestik. (www.wikipedia.com).
2.2.1 Air Limbah Domestik
Air limbah domestik adalah air bekas yang tidak dapat dipergunakan lagi untuk tujuan semula baik yang mengandung kotoran manusia (tinja) atau dari aktivitas dapur, kamar mandi dan air cucian dimana kuantitasnya antara 50-70% dari rata-rata pemakaian air bersih (120-140 liter/orang/hari).
Sumber air limbah domestik berasal dari aktivitas rumah tangga, kantor, commercial buildy (hotel, restoran, rumah sakit), dll. Yang umumnya Sumber air limbah domestic ini berasal dari kamar mandi, tempat cuci, dapur dan toilet/kakus. Pengolahan air limbah, sangat berkaitan dengan karakteristik air limbah. Air limbah rumah tangga jika dilihat dari sumbernya ada dua macam, yaitu:
1) Air limbah rumah tangga yang bersumber dari toilet/kakus (black water).
2) Air limbah rumah tangga non kakus (grey water).
Adapun limbah domestik ini memiliki kandungan bahan berupa 99,9 persen air dan 0,1 persen bahan padat.
Karakterikstik air limbah rumah tangga dari WC/kakus seperti terlihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 2.1
Karakteristik Air Limbah WC/kakus
No Parameter Satuan Konsentrasi
1 pH - -6,5 – 7,0
2 Temperatur °C 37
3 Amonium Mg/L 25
4 Nitrat Mg/L 0
5 Nitrit Mg/L 0
6 Sulfat Mg/L 20
7 Phospat Mg/L 30
8 CO2 Mg/L
9 HCO3- Mg/L 120
10 BOD5 Mg/L 220
11 COD Mg/L 610
12 Khlorida Mg/L 45
13 Total Coli MPN 3 X 105
Sumber: Laboratorium Balai Lingkungan Permukiman, 1994
Karakteristik air limbah rumah tangga non kakus berdasarkan hasil penelitian Puslitbang Permukiman seperti pada tabel di bawah ini :
Tabel 2.2
Karakteristik Air Limbah Non Kakus
No Parameter Satuan Konsentrasi
1 pH - 8,5
2 Tempratur °C 24
3 Amonium Mg/L 10
4 Nitrat Mg/L 0
5 Nitrit Mg/L 0,005
6 Sulfat Mg/L 150
7 Phospat Mg/L 6,7
8 CO2 Mg/L 44
9 HCO3- Mg/L 107
10 DO Mg/L 4,01
11 BOD5 Mg/L 189
12 COD Mg/L 317
13 Khlorida Mg/L 47
14 Zat Organik Mg/L KMnO4 554
15 Detergen Mg/L MBAS 2,7
16 Minyak Mg/L <0,05
Sumber: Laboratorium TL ITB tahun 1994
Tinggi rendahnya mutu air limbah disuatu tempat dipengaruhi oleh karakteristik air limbah secara fisik, kimia maupun biologi dengan parameter seperti berikut :
Tabel 2.3
karakteristik air limbah secara fisik, kimia maupun biologi
No Karakteristik Air Limbah Parameter
1 Fisik Temperatur, Kekeruhan, Warna, dan Bau.
2 Kimia a) pH
b) organik (karbohidrat, protein, lemak, fenol)
c) anorganik (zat mineral yang mengurangi O2,
zat beracun dan logam berat).
3 Biologi Terdiri dari golongan mikroorganisma yang terdapat dalam air (golongan koli).
Karakteristik fisik, kimia dan biologi terdapat hubungan yang saling bergantung dan saling mempengaruhi satu sama lainnya.
Sebagai contoh , temperatur air limbah berhubungan langsung dengan keaktifan mikroorganisme, sehingga air limbah dapat membusuk dan bau, contoh lainnya adalah adanya hubungan tak langsung antara mikroorganisma dengan karakteristik kimia.
Untuk mengukur sampai berapa jauh tingkat pengotor air, maka dapat digunakan beberapa parameter antara lain : BOD (Biochemical Oxigen Demand), COD (Chemical Oxigen Demand), SS (Suspended Solid), bakteri koli,dan golongan amoniak.
Parameter-parameter ini dipakai pula untuk mengukur kemampuan pengolahan air limbah. Berdasarkan kekuatannya, air limbah digolongkan dalam 3 jenis yaitu : kuat, sedangdan lemah.
Jenis kekuatan tersebut biasanya dinyatakan dengan tingkat BOD, yaitu:
? Kuat, bila nilai BOD > 300 mg/L.
? Sedang, bila nilai BOD 100 -300 mg/L
? Lemah, bila nilai BOD < 100 mg/L
Sumber:http://www.kimpraswil.go.id/Limbah.pdf.
2.2.2 Air Limbah Non Domestik/Industri
Air limbah Non domestik/Industri adalah air limbah yang bersumber dari aktivitas industri, pertanian, dan sejenisnya. Sedangkan kandungan limbah industri ini tergantung pada bahan dan teknologi yang digunakan serta barang hasil produksi yang akan dihasilkan.
Karakteristik limbah:
1. Berukuran mikro
2. Dinamis
3. Berdampak luas (penyebarannya)
4. Berdampak jangka panjang (antar generasi)
Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah:
1. Volume limbah
2. Kandungan bahan pencemar
3. Frekuensi pembuangan limbah
? Berdasarkan karakteristiknya, limbah industri dapat digolongkan menjadi 4 bagian:
1. Limbah cair
2. Limbah padat
3. Limbah gas dan partikel
4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)
dengan kriteria yang tercantum dalam peraturan pemerintah No.18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, limbah B3 terbagi atas dua macam yaitu yang spesifik dan yang tidak spesifik.
Perbedaan pokok antara limbah B3 spesifik dan tidak spesifik terletak pada cara penggolongan yaitu pada limbah spesifik digolongkan kedalam jenis industri, sumber pencemaran, asal limbah, dan pencemaran utama sedangkan pada limbah tidak spesifik penggolongannya atas dasar kategori dan bahan pencemar.
? Hal-hal yang Perlu Dicantumkan dalam Pemberian Ijin Pembuangan Limbah Cair
Dalam PP No. 82 tahun 2001 ditetapkan kriteria-kriteria tentang ijin pembuangan limbah cair yang dapat diberikan kepada industri yang harus mencantumkan hal-hal berikut:
a. Kewajiban untuk mengolah limbah
b. Persyaratan mutu dan kuantitas limbah cair yang boleh dibuang kemedia lingkungan.
c. Persyaratan cara pembuangan air limbah .
d. Persyaratan untuk mengadakan sarana dan prosedur penanggulangan keadaan darurat.
e. Persyaratan untuk melakukan pemantauan mutu dan debit air limbah
f. Persyaratan lain yang ditentukan oleh hasil pemeriksaan analisis mengenai dampak lingkungan yang erat kaitannya dengan pengendalian pencemaran air bagi usaha dan atau kegiatan yang wajib melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan.
g. Larangan pembuangan secara sekaligus dalam satu saat atau pelepasan dadakan.
h. Larangan untuk melakukan pengenceran limbah cair dalam upaya penataan batas kadar yang dipersyaratkan.
i. Kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil swapantau.
? Indikasi Pencemaran Air
Indikasi pencemaran air dapat kita ketahui baik secara visual maupun pengujian.
1. Perubahan pH (tingkat keasaman / konsentrasi ion hidrogen) Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan memiliki pH netral dengan kisaran nilai 6.5 – 7.5. Air limbah industri yang belum terolah dan memiliki pH diluar nilai pH netral, akan mengubah pH air sungai dan dapat mengganggukehidupan organisme didalamnya. Hal ini akan semakin parahjika daya dukung lingkungan rendah serta debit air sungai rendah. Limbah dengan pH asam / rendah bersifat korosif terhadap logam.
2. Perubahan warna, bau dan rasa Air normak dan air bersih tidak akan berwarna, sehingga tampak bening / jernih. Bila kondisi air warnanya berubah maka hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa air telah tercemar. Timbulnya bau pada air lingkungan merupakan indikasi kuat bahwa air telah tercemar. Air yang bau dapat berasal darilimba industri atau dari hasil degradasioleh mikroba. Mikroba yang hidup dalam air akan mengubah organik menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau sehingga mengubah rasa.
3. Timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut Endapan, koloid dan bahan terlarut berasal dari adanya limbah industri yang berbentuk padat. Limbah industri yang berbentuk padat, bila tidak larut sempurna akan mengendapdidasar sungai, dan yang larut sebagian akan menjadi koloid dan akan menghalangi bahan-bahan organik yang sulit diukur melalui uji BOD karena sulit didegradasi melalui reaksi biokimia, namun dapat diukur menjadi uji COD.
Adapun komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari :
? Bahan buangan padat
? Bahan buangan organic
? Bahan buangan anorganik
? Dampak limbah cair dari hasil-hasil industri, yaitu:
1) Merusak komponen dan memperburuk kondisi lingkungan dan kerusakan pada komponen lingkungan lainnya.
Seperti kematian ikan, keracunan pada manusia dan ternak, kematian plankton, akumulasi dalam daging ikan dan moluska, terutama bila limbah cair yang mengandung racun As, CN, Cr, Cd, Cu, F, Hg, Pb, atau Zn.
2) Akan meningkatkan timbulnya penyakit pada manusia.
? Untuk mengatasi limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi:
1. Pengolahan menurut tingkatan perlakuan
2. Pengolahan menurut karakteristik limbah
Untuk mengatasi limbah Pelaku industri harus melakukan cara-cara pencegahan pencemaran lingkungan dengan melaksanakan teknologi bersih, memasang alat pencegahan pencemaran, melakukan proses daur ulang dan yang terpenting harus melakukan pengolahan limbah industri guna menghilangkan bahan pencemaran atau paling tidak meminimalkan bahan pencemaran hingga batas yang diperbolehkan.
? Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kawasan Industri
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 3 Tahun 1998 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kawasan Industri. Maka telah ditetapkan baku mutu limbah cair bagi kawsan industry seperti yang tertera pada tabel di bawah ini :
Tabel 2.4
Baku mutu limbah cair bagi kawasan industri
Parameter Kadar Maksimum (mg/L) Beban Pencemaran Maksimum (kg/hari.Ha)
BOD 5 50 4,3
COD 100 8,6
TSS 200 17,2
Ph 6,0 - 9,0
DEBIT LIMBAH CAIR MASIMUM
1 l per detik per Ha lahan kawasan yang terpakai
Berdasarkan keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no. 3 tahun 1998 tentang baku mutu limbah cair bagi kawasan industri maka penghitungan untuk penetapan beban pencemaran maksimum pada jumlah unsur pencemar yang terkandung dalam aliran limbah cair maka digunakan perhitungan sebagai berikut:
1. Beban Pencemaran Maksimum
Keterangan :
BPM = Beban Pencemaran maksimum yang diperbolehkan, dinyatakan dalam kg parameter per hari.
(Cm)j =Kadar maksimum parameter j seperti tercantum dalam lampiran I Keputusan ini, dinyatakan dalam mg/l.
Dm =Debit Limbah cair maksimum seperti tercantum dalam lampiran I, dinyatakan dalam L limbah cair per detik per hectare.
A = Luas lahan kawasan yang terpakai, dinyatakan dalam hectare (HA).
f = factor konversi = 1 kg * 24 x 3600 detik = 0,086 … (II.1.2)
1.00.0 mg hari
2. Beban pencemaran sebenarnya
Beban pencemar sebenarnya dihitung dengan cara sebagai berikut :
Keterangan :
BPA = Beban pencemaran sebenarnya, dinyatakan dalam kg parameter per hari
(CA)j = Kadar sebenarnya parameter j, dinyatakan dalam mg/l.
DA = Debit limbah cair sebenarnya, dinyatakan dalam liter/detik
F = faktor konversi = 0,086
2.3 Pemilihan teknologi pembuangan air limbah
Dasar-dasar pertimbangan dalam pemilihan teknologi pengolahan (pembungan) air limbah di tiap-tiap daerah umumnya memiliki faktor-faktor yang berbeda. Faktor-faktor pertimbangan untuk menetapkan teknologi pengolahan air limbah yang tepat di suatu daerah, yaitu:
1. Kepadatan penduduk: Faktor ini dapat menjadi indikator akan tersedia atau tidaknya lahan yang cukup untuk membangun sistem pengolahan limbah
? Jika kepadatan penduduk lebih dari 500 orang per ha, maka teknologi pembuangan air limbahnya menggunakan:
1. Sewerage konvensional
2. Interceptor sewer
3. Shallow sewer
4. Tangki septik dan shallow sewer
Yang bertanggung jawab atas teknologi pembuangan air limbah tersebut adalah pemerintah.
? Jika kepadatan penduduk lebih dari 300 orang per ha atau lebih dari 150 orang per ha, maka teknologi pembuangan air limbahnya menggunakan:
2. Cubluk kembar
3. Cubluk kembar bersama
4. Cubluk tunggal
5. Septic tank
2. Penyediaan air bersih.
Penyediaan air bersih sangat penting diperhatikan, karena kondisi tersedia atau tidaknya air bersih di suatu daerah akan menentukan dari kelancaran operasi sistem pengoahan air limbah. Yang mana, untuk sistem pembungan terpusat itu memerlukan penyediaan air bersih yang relatif lebih terjamin dibandingkan dengan sistem pembungan setempat. Hal ini dikarenakan sistem terpusat memerlukan proses penggelontoran yang baik dan terjamin.
3. Keadaan tanah.
Faktor keadaan tanah yang tidak dapat meresapkan air tidak mungkin diterapkan untuk sistem pembungan setempat, karena sistem ini memerlukan areal peresapan. Dan kondisi tanah seperti itu, sistem peresapannya dapat dipastikan tidak dapat berjalan dengan baik.
4. Keadaan air tanah.
Kondisi air tanah yang dangkal tidak cocok untuk diterapkan pada sistem pembungan air limbah setempat. Hal ini dikarenakan kondisi tersebut menyebabkan sistem peresapan tidak akan berjalan dengan baik. Selain itu, effluent dari sistem pembungan setempat ini akan mencemari air tanah dangkal, terutama jika air tanah tersebut dipergunakan sebagai sumber air minum.
5. Keadaan tofografi (penampang tanah).
Faktor kemiringan tanah ini akan mempengaruhi pemilihan teknologi pengolahan air limbah. Kondisi tanah yang memiliki kemiringan kurang dari 2 persen akan menyulitkan dalam penerapan sistem pembungan terpusat. Hal ini didasarkan penanaman pipa pada bagian hilir akan dalam sekali. Atau jika terpaksa, maka akan dilakukan dengan sistem pemompaan. Dan ini berarti memerlukan investasi dana yang tidak kecil.
6. Kemampuan membangun.
Faktor ini jelas-jelas berkait dengan kemampuan setiap daerah untuk membangun teknologi yang dipilih. Apabila perencanaan yang tidak tepat dan cermat, bisa jadi ada kemungkinan teknologi yang telah dipilih tidak dapat diterapkan karena ketidakmampuan tenaga setempat untuk membangun atau minimal penerapannya akan mundur waktunya hingga kondisi tenaga (SDM) daerah tersebut telah cukup mampu untuk membangun
7. Kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Faktor ini lebih tepat dalam menekankan pada kondisi dan status ekonomi masyarakat setempat. Hal ini tentunya, diperlukan akan adanya pemberdayaan masyarakat setempat berkait dengan pembebanan biaya pembangunan dan operasional penyelenggaraan pengolahan air limbah. Karena tidak mungkin biaya operasional dan pemeliharaan alat-alat pengolahan air limbah terus-terus ditanggung oleh pemerintah daerah setempat. Lebih-lebih saat ini telah dilakukan otonomi daerah.
2.4 Sistem pembuangan air limbah
a. Sistem sanitasi setempat (On Site Sanitation)
Proses pembuangan dan pengolahan air limbah dilakukan secara bersamaan di tempat yang biasanya menggunakan cubluk atau septic tank. Bila pada suatu waktu cubluk atau septic tank tersebut sudah penuh dengan lumpur tinja, maka harus disedot dan diangkut dengan truk tinja ke IPLT (Instalasi Pengelolaan Lumpur Tinja) untuk disempurnakan prosesnya agar tidak merusak atau mencemari lingkungan. Pembuangan air limbah dengan sistem ini dalam praktek sehari-harinya dapat dilihat dalam kegiatan:
a) Individual, yaitu sistem pembuangan melalui kloset, peturasan yang dilakukan oleh masing-masing keluarga pada setiap rumah.
b) Komunal, yaitu sistem pembuangan melalui kloset yang dilakukan secara bersama-sama oleh beberapa keluarga yang biasanya berupa jamban jamak, MCK umum, atau septic tank komunal.
Keuntungan pemakaian system pembuangan setempat adalah:
? Biaya pembuatan murah;
? Biasanya dibuat oleh sector swasta/pribadi
? Teknologi cukup sederhan;
? System sangat privasi karena terletak pada persilnya;
? Operasi dan pemeliharaan dilakukan secara pribadi masing;masing;
Kerugian pemakaian system pembuangan setempat adalah:
? Tidak selalu cocok disemua daerah;
? Sukar mengontrol operasi dan pemeliharaan;
? Bila pengendalian tidak sempuran maka air limbah dibuang
b. Sistem sanitasi tidak setempat/terpusat (Off Site Sanitation)
Proses pembuangan air limbah atau penyaluran air limbah yang berasal dari rumah-rumah dan berbagai fasilitas lainnya, seperti air sisa mandi, air sisa cucian, dan seterusnya, serta air limbah yang berasal dari sisa-sisa proses industri dialirkan melalui jaringan perpipaan menuju IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) untuk diolah secara terpusat.
Keuntungan pemakaian system penyaluran terpusat adalah:
? Pelayanan yang lebih nyaman;
? Menampung semua air limbah domestic;
? Pencemaran air tanah dan lingkungan dapat dihindari;
? Cocok untuk daerah dengan kepadatan tinggi;
? Masa/umur pemakaian relative lebih lama.
Kerugian pemakaian system penyaluran terpusat adalah:
? Memerlukan pembiayaan yang tinggi;
? Memerlukan tenaga yang trampil untuk operasional dan pemeliharaan;
? Memerlukan perencanaan dan pelaksanaan untuk jangka panjang;
? Nilai manfaat akan terlihat apabila sistem telah berjalan dan semua penduduk yang terlayani
2.5 Persyaratan teknis untuk tangki septik (SK SNI T-07-1989-F):
a) Bahan bangunan harus kuat, tahan terhadap asam, dan kedap air. Bahan bangunan yang dapat dipilih untuk bangunan dasar, penutup, dan pipa penyalur air limbah adalah batu kali, bata merah, batako, beton biasa, beton bertulang, asbes, semen, PVC, keramik, dan plat besi.
b) Bentuk empat persegi panjang (2:1 s/d 3:1) dengan ukuran disesuaikan jumlah pemakai (25 orang) dan waktu pengurasan untuk ukuran kecil (1 kk). Pipa penyalur air limbah dari bahan PVC, keramik, atau beton yang berada di luar bangunan harus kedap air, kemiringan minimum 2 %, belokan lebih besar dari 45 % dipasang clean out atau pengontrol pipa dan belokan 90 % sebaiknya dihindari atau dengan dua kali belokan atau memakai bak kontrol, dilengkapi dengan pipa aliran masuk dan keluar, serta pipa udara (diameter 0,05 m dan tinggi 2 m di atas tanah). Dilengkapi dengan lubang pemeriksa untuk keperluan pengurasan dan keperluan lainnya. Tangki dapat dibuat dengan dua ruang atau lebih untuk menaikkan efisiensi pengolahan dengan panjang tangki ruang pertama 2/3 bagian dan ruang kedua 1/3 bagian. Jarak tangki septik dan bidang resapan ke bangunan = 1,5 m, jarak dengan sumur = 10 m dan jarak dengan pipa air bersih = 3 m.
c) Tangki dengan bidang resapan lebih dari 1 jalur, perlu dilengkapi dengan kotak distribusi.
d) Sarana pengolahan efluen dapat berupa bidang resapan: ukuran bidang resapan disesuaikan dengan daya serap tanah dan jumlah pemakai, pipa resapan (panjangnya minimum 10 cm) dari bahan yang tahan korosi dengan bidang resapan dibuat miring dengan kemiringan 0,2 %.
e) Sumur resapan digunakan untuk tangki septik yang melayani kurang dari 25 orang (sumur 0,8 m tinggi 1 m), diisi kerikil/batu pecah setinggi 3-8 cm, dan dinding sumur dilapisi dengan ijuk.
Yang bertanggung jawab atas teknologi pembuangan air limbah tersebut adalah masyarakat dengan bimbingan instansi terkait.
(Sumber: Manajemen Infrastruktur, Robert J.Kodojatie, Ph.D)
“Ruang kosong” di dalam septic tank merupakan ruang antara bagian teratas lumpur dan bagian terbawah/alas dari buih. Penetapan ini dilakukan atas dasar pergerakan limbah masuk dan keluar dari tangki. Dimensi vertikal tanki tergantung pada dalamnya penetrasi pipa keluar atau saluran pembuangan dan rencana area tangki. Semakin besar rencana area ruang kosong, semakin rendah pula kecepatan horizontal, sehingga sedimentasi lebih efektif.
Lumpur dan buih mengotori ruang kosong dalam septic tank, sehingga percepatan horisontal meningkat. Akibatnya, kotoran padat terbawa arus tersebut. Untuk tangki dalam dimensi umum, ruang kosong dibentuk sekitar 1 kaki di bawah pangkal saluran pembuangan atau lewat pipa, dan buih seharusnya tidak bertumpuk lebih rendah dari 3 inci di atas dasar saluran pembuangan atau pipa. Hal ini berarti dengan penetrasi 16 inci dalam saluran pembuangan atau lewat pipa, maka ruang bersih akan mempunyai 15 inci dimensi vertikal. Hasilnya berlipat dengan rencana area tangki, dan menghasilkan volume minimum tangki untuk masukan limbah dan sedimentasi, sedangkan sisa volume tangki yang tersedia untuk akumulasi buih dan kotoran. Sebenarnya, ketika ruang bersih yang ada berkurang 15 inci, maka tangki harus dibersihkan dari buih dan kotoran.
2.5.1 Lokasi septic tank
Lokasi septic tank sebaiknya direncanakan supaya mencegah terjadinya kontaminasi sumber atau potensi sumber air bersih. Tangki harus dalam jarak minimum 50 kaki dari sumber air dan lokasi dengan permukaan kering harus jauh dari semua sumber persediaan air bersih.
Jarak Minimum dari Tangki Septik atau Bidang/Sumur Resapan
Terhadap Suatu Unit Tertentu
Jarak Dari Septic Tank (Tangki Septik) Bidang Resapan
Bangunan 1.50 m 1.50 m
Sumur 10.00 m 10.00 m
Pipa air bersih 3.00 m 3.00 m
Sumber: SK SNI T-07-1989-F
2.5.2 Detail septic tank
Terdapat perbedaan pendapat dalam Departemen Kesehatan menyangkut ukuran septic tank untuk pelayanan rumah tangga. Secara umum, diketahui bahwa kapasitas minimum untuk septic tank harus 500 galon di bawah saluran air limbah dengan ruang paling sedikit tidak kurang dari 1 kaki di atas saluran air limbah itu.
2.6 Jamban (kakus)
Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat lingkungan tempat hidup yang sehat. Dalam pembuatan jamban sedapat mungkin harus diusahakan agar jamban tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, kontruksi yang kokoh dan biaya yang terjangkau perlu dipikirkan dalam membuat jamban.
Syarat-syarat yang perlu diperhatikan dalam pembuatan jamban adalah sebagai berikut:
1. Tidak mengakibatkan pencemaran pada sumber-sumber air minum, dan permukaan tanah yang ada di sekitar jamban.
2. Menghindarkan berkembangbiaknya/tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah.
3. Tidak memungkinkan berkembangbiaknya lalat dan serangga lain.
4. Menghindarkan atau mencegah timbulnya bau dan pemandangan yang tidak sedap dipandang.
5. Mengusahakan kontruksi yang sederhana, kuat, dan murah.
6. Mengusahakan sistem yang dapat digunakan dan diterima masyarakat setempat.
Dalam penentuan letak kakus, ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu jarak terhadap sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada:
1. Keadaan daerah datar atau lereng.
2. Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam
3. Sifat, macam, dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur
Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya peresapan tanah. Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber air dan lokasi jamban berkisar antara 8 s/d 15 meter atau rata-rata 10 meter.
Dalam penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
1. Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah dari letak sumber air. Apabila tidak mungkin dan terpaksa diatasnya, maka jarak tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari letak sumur.
2. Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang sering digenangi banjir.
Bila tidak memungkinkan, maka hendaknya lantai jamban (di atas lobang) dibuat lebih tinggi dari permukaan air yang tertinggi pada waktu banjir.
3. Mudah dan tidaknya memperoleh air.
Sumber: www.iptek.net.id/ind/warintek/Pengelolaan_sanitasi.php.
2.7 Tata cara bangunan MCK umum (Nomor SNI: 03-2399-1991)
Tata cara perencanaan bangunan MCK umum dimaksudkan untuk memberikan ukuran dan batasan minimum bangunan MCK guna perlindungan kesehatan dan pembinaan kesejahteraan masyarakat.
Persyaratan:
a) Lokasi: waktu tempuh dari rumah penduduk 2 menit (jarak 100 m), luas daerah pelayanan maksimum untuk 1 MCK adalah 3 ha.
b) Kapasitas pelayanan: harus dapat melayani pada saat jam sibuk, banyaknya ruang tergantung jumlah pemakai.
c) Penyediaan air bersih: sumber air bersih dari PDAM, air tanah, sumur bor/gali/mata air dan kuantitas air untuk mandi 20 ltr/org/hr, cuci 15 ltr/org/hr, kakus 10 ltr/org/hr.
d) Bahan bangunan: menggunakan bahan setempat dengan spesifikasi sesuai standar bahan bangunan.
e) Konstruksi: sederhana tanpa perhitungan, namun bila daya dukung tanah kurang baik perlu dilakukan perhitungan.
f) Plumbing: MCK perlu dilengkapi dengan sistem plumbing untuk pipa air bersih untuk air kotor dan drainase.
g) Fasilitas terdiri dari kamar mandi, tempat cuci, dan kakus. Dilengkapi dengan instalasi listrik. (Sumber: Said, 1987:12)
2.8 Peran Lokasi Penimbunan Limbah
1) Tujuan penimbunan limbah
Tujuan pembuatan penimbunan limbah ialah menstabilkan limbah padat dan membuatnya menjadi bersih melalui penyimpanan limbah secara benar dan penggunaan fungsi metabolis alami yang benar.
2) Klasifikasi lokasi penimbunan limbah
3) Klasifikasi struktur penimbunan limbah
Lokasi penimbunan limbah digolongkan ke dalam 5 jenis menurut struktur sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1 dan Gambar 1. Dari segi mutu lindi dan gas yang ditimbulkan dari lokasi penimbunan limbah, baik metode penimbunan limbah semi-aerobik maupun aerobik yang dikehendaki.
Tabel 2.8. Klasifikasi Struktur Penimbunan limbah
Penimbunan limbah anaerobik Limbah padat harus ditimbun kedalam galian di area tanah datar atau lembah. Limbah berisi air dan dalam keadaan anaerobik.
Penimbunan limbah saniter anaerobik Penimbunan limbah anaerobik dengan penutup berbentuk "sandwich". Kondisi limbah padat sama dengan penimbunan limbah anaerobik.
Penimbunan limbah saniter anaerobik yang telah disempurnakan (penimbunan limbah saniter yang telah disempurnakan) Memiliki sistem penampungan lindi di dasar lokasi penimbunan limbah. Sedangkan yang lainnya sama seperti penimbunan limbah saniter anaerobik. Kondisinya tetap anaerobik dan kadar air jauh lebih sedikit dibandingkan dengan penimbunan limbah saniter anaerobik.
Penimbunan limbah semi-aerobik Saluran penampungan lindi lebih besar dari pada saluran penimbunan limbah saniter yang telah disempurnakan. Lubang saluran dikelilingi udara dan salurannya ditutupi batu yang telah dihancurkan kecil-kecil. Kadar air pada limbah padat kecil. Oksigen disediakan bagi limbah padat dari saluran penampungan lindi
Penimbunan limbah aerobik Di samping saluran penampungan lindi, pipa persediaan udara dipasang dan udara didorong agar memasuki limbah padat sehingga kondisinya menjadi lebih aerobik dibandingkan dengan penimbunan limbah semi-aerobik.
Gambar 2.3. Klasifikasi struktur penimbunan limbah
4) Struktur penimbunan limbah semi-aerobik
Sebagaimana diperlihatkan pada Gambar 2, penimbunan limbah semi-aerobik memungkinkan terjadinya proses masuknya udara melalui pipa penampung lindi yang dipasang di dasar penimbunan limbah, yang membantu memperbesar terjadinya proses aerobik, dan membuat bakteri aerobik menjadi aktif, serta mempercepat terjadinya dekomposisi limbah.
Gambar 2. Jenis Penimbunan limbah dan Sistem Penampungan Lindi
Selanjutnya kegiatan ini akan membuat mutu dari lindi menjadi lebih baik dengan terjadinya penurunan kepekatan lindi, juga mengurangi terbentuknya gas berbahaya, yang seluruhnya dapat menimbulkan stabilisasi lokasi dari penimbunan limbah menjadi lebih cepat. Lihat Gambar 3.
Gambar 3. Perubahan Kadar Kepekatan Lindi dalam BOD sesuai dengan jenis Penimbunan
5) Fasilitas lokasi penimbunan limbah saniter khusus
Lokasi penimbunan limbah dapat melaksanakan fungsinya hanya apabila kita memiliki rancangan dan cara kerja yang baik. Rancangan yang baik dengan cara kerja yang buruk atau rancangan yang buruk dengan cara kerja yang baik tidak akan menimbulkan hasil yang baik. Lihat Gambar 4.
Gambar 4. Ilustrasi konsep Lokasi Penimbunan limbah Sanitasi Khusus
2.9. Pemanfaatan Limbah
Limbah manusia merupakan sumber daya yang digunakan secara luas dibanyak bagian dunia. Petunjuk ini memusatkan perhatian pada tiga cara penggunaan yang paling umum berikut ini:
1) Pemanfaatan air limbah untuk pengairan tanaman
Dalam dua dasawarsa yang lalu telah terjadi peningkatan yang mencolok dalam penggunana air limbah untuk pengairan tanaman, terutama di daerah kering dan daerah kering musiman baik di negeri industri maupun negara sedang berkembang. Hal itu terjadi sebagai akibat beberapa faktor :
• Meningkatnya kelangkaan air pilihan lain untuk pengairan, diperburuk oleh meningkatnya kebutuhan kota akan penyediaan air minum dan tumbuhnya pengakuan oleh para perencana sumber daya air akan kepentingan dan nilai pemanfaatan kembali air limbah;
• Mahalnya harga pupuk buatan dan pengakuan akan nilai unsur hara dalam air limbah, yang secara nyata meningkatkan hasil panen;
• Ditunjuknya bahwa ancaman kesehatan dan kerusakan tanah adalah minimum jika diambil tindakan pencegahan yang perlu;
• Mahalnya biaya instalasi pengelolaan air limbah yang maju ; dan
• Penerimaan budidaya masyarakat akan penggunaan limbah itu.
2) Pemanfaatan ekskreta dalam pertanian
Kebiasaan kuno dalam penggunanan ekskreta manusia pada tanah telah memelihara kesuburan tanah di banyak negeri asia bagian timur dan pasifik bagian barat selama lebih dari 4000 tahun, dan tetap merupakan satu-satunya pilihan penggunaan dalam pertanian di daerah tanpa sarana sistem riol. Kebanyakan rumah tangga dinegara sedang berkembang masih tetap akan kekurangan sistem riol sampai masa depan yang dapat diduga. Oleh karena itu tekanan harus diberikan pada pembuatan sistem penyehatan ditempat yang memungkinkan penggunaan aman ekskreta yang tersimpan seperti kakus.
3) Pemanfaatan ekskreta dan air limbah dalam budidaya air
Budidaya air mengacu kepada kebiasaan cara kuno dalam budidaya ikan, terutama ikan mas dan mujair, dan pemanfaatan tanaman air, kangkung air dan teratai. Pemupukan kolam budidaya air dengan limbah manusia dan hewan telah dilakukan selama ribuan tahun di asia ; sekarang paling sedikit dua pertiga hasil peternakan ikan dunia berasal dari kolam yang dipupuk dengan cara itu.
• Segi Kesehatan Masyarakat
Penyakit terkait-ekskreta sangat umum dinegara sedang berkembang, dan ekskreta serta air limbah sama-sama mengandung konsentrasi tinggi patogen-ekskreta, bakteri, virus, protozoa dan cacing. Penggunaan ekskreta dan air limbah dalam pertanian atau budidaya air dapat menimbulkan ancaman yang nyata pada kesehatan masyarakat hanya jika hal berikut terjadi:
a) Dosis infeksi patogen-ekskreta mencapai lahan pertanian atau kolam, atau patogen itu memperbanyak diri dilahan pertanian atau kolam, membentuk dosis yang menimbulkan infeksi;
b) Dosisi infeksi itu mencapai inang manusia;
c) Inang menjadi terinfeksi;
d) Infeksi itu menyebabkan penyakit atau penyebaran lebih lanjut.
2.10 Manajemen Pelayanan Limbah Cair (Wastewater Management)
Untuk memperkuat eksplansi mengenai manajemen pelayanan air limbah ini, menerik untuk disimak studi yang dilakukan oleh Larry Taylor di amerika serikat tentang subtraktabilitas dan eksklutabilitas, tingkat kemerosotan, skala ekonomi dan tingkat keperluan akan koordinasi. Subtraktabilitas menunjukkan suatu keadaan yang mempengaruhi konsumsi pengguna jasa tambahan terhadap pengguna jasa secara keseluruhan. Semakin rendah subtraktabilitas menunjukan bahwa masuknya pengguna jasa atau konsumen baru tidak membawa pengaruh terhadap semua konsumen untuk menggunakan barang atau jasa yang ada. Barang – barang atau jasa yang mempunyai tingkat subtraktabilitas yang tinggi disebut dengan barang – barang atau jasa yang dikonsumsi bersama.
Eksklutabilitas adalah kemampuan untuk mengontrol akses terhadap barang dan jasa. Eksklutabilitas yang tinggi menunjukan keadaan yang mudah untuk mencegah konsumen mengkonsumsi barang dan jasa tersebut.
Kemerosotan (sunkness) menunjukan kepada suatu keadaan dimana nilai modal merosot pada saat kegiatan produksi barang dan jasa dilakukan. Pada kegiatan produksi barang dan jasa dengan tingkat keperjuangan (contestability) yang tinggi, maka masuk atau keluar dari kegiatan tersebut relatif murah.
Derajat keperluan koordinasi menunjukkan pada jangkauan pekerjaan yang melibatkan organisasi – organisasi pemerintah. Berapa instansi pemerintahan yang terlibat dalam menangani suatu instalasi air limbah? Semakin banyak instansi yang terlibat, maka semakin sulit koordinasi yang harus dilakukan. Jaringan kerja (network) yang luas menunjukkan bahwa proyek yang dibangun membutuhkan investasi yang besar dan keterlibatan banyak pihak.
Dari study yang dilakukan oleh. Larry Taylor menunjukkan bahwa penyaluran limah secara konvensional, gorong – gorong, stasiun pompa air limbah dan sarana pengelolaan air limbah mempunyai tingkat subtraktabilitas, ekskludabilitas, derajat kemerosotan, skala ekonomi dan tingkat keperluan koordinasi yang berbeda, sebagaimana digambarkan berikut ini.
Tabel 2.9 Aktivitas dan sifat barang serta aspek produksi manajemen air limbah
Aktivitas Sifat barang Aspek produksi eksternalitas
Tingkat subtraktabilitas Tingkat eksklutabilitas Tingkat kemerosotan Skala ekonomi Tingkat koordinasi
Gorong-gorong Rendah Tinggi Tinggi Sedang Sedang Kesehatan
Stasion pompa Rendah Tinggi Tinggi Sedang Rendah Polusi Air
Pengelola air limbah rendah Tinggi Tinggi Sedang Rendah Polusi Air
Sumber : Larry Taylor. 1994
Dari penelitian yang diadakan oleh larry taylor diatas menunjukkan bahwa gorong – gorong atau sistem penyaluran air limbah konvensional, stasion pompa dan sarana pengelolaan air limbah (PAL) mempunyai tingkat subtraktabilitas yang rendah. Masuknya konsumen atau pengguna jasa ketiga sarana tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap konsumen yang lama . sebaliknya, ketiganya mempunyai tingkat eksklutabilitas yang tinggi, karena konsumen tidak mudah untuk menggunkan fasilitas-fasilitas tersebut atau akses menggunakannya sulit. Keadaan terakhir ini mengacu pada kondisi di negara – negar maju, dimana kondisi manajemen limbah cair telah cukup mapan dan tertata dengan baik. Sarana gorong-gorong, stasion pompa dan pengelola air limbah telah dirancang untuk sejumlah penduduk atau rumah tangga atau rumah. Jika seseorang mendirikan rumah baru disuatu daerah, ia harus mendaftarkan diri pada instansi pemerintah yang khusus menangani limbah cair untuk dapat mengakses ke saluran pembuangan limbah. Pemberian akses biasanya disertai dengan pembayaran pajak atau retribusi kepada negara, yang pada gilirannya akan digunakan untuk memperbesar kapasitas dari sarana yang ada.
Ditinjau dari segi kemerosotan, ketiga sarana mempunyai karakteristik yang sama, yaitu tingkat kemerosotan tinggi. Biaya modal yang dikeluarkan dengan cepat merosot. Artinya, nilai modal yang ditanamkan pada ketiga prasarana tersebut cepat merosot nilainya. Nilai modal yang cepat merosot ini harus segera dikompensasi dengan perbaikan infrastruktur secara priodik.
Ditinjau dari skala ekonomis, ketiga sarana air limbah ini termasuk dalam kategori sedang. Biaya yang dibutuhkan untuk membuang prasarana tersebut tidak terlalu besar dan membutuhkan investasi yang mahal. Berbeda dengan pembangunan jalan tol yang membutuhkan modal yang besar dan pelibatan pihak swasta yang didanai konsorsium tertentu. Pendanaan pembangunan gorong-gorong kota tidak terlalu memerlukan struktur pendanaan yang rumit, karena secara langsung dapat didanai melalui anggaran belanja pemerintah.
Di Indonesia, pembangunan sarana pengelolaan air limbah masih sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (kota madya). Biasanya pendanaan pembangunan gorong-gorong kota dan stasion pengolahan air limbah dilakukan melalui subsidi pemerintah pusat dan pinjaman luar negeri.
Kebijakn yang diterapkan di indonesia dalam mengelola air limbah secara formal adalah seperti yang diarahkan oleh departemen PU (Direktorat Jendral Cipta Karya) pada awalnya atau Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah (KIMPRASWIL) sebagai depertemen tehnis yang membina pengelolaan air limbah di Indonesia.
2.11 Pokok-Pokok Permasalahan Pengelolaan Air Limbah
Berdasarkan konsep manajemen pengelolaaan air limbah, persoalan yang muncul pada pengelolaan air limbah adalah :
1. Aspek Kelembagaan: bentuk kelembagaan yang cocok dengan besarnya kewenangan dan sumber daya manusia sebagai salah satu unsur pengelola kurang memadai dari jumlah maupun kualifikasinya ;
2. Aspek Teknis Operasional: keterbatasan sarana dan prasarana pengurasan dan pengumpulan (truk tinja), instalasi pengolah lumpur tinja (IPLT), serta instalasi pengolah air limbah (IPAL) sebelum dibuang ke badan air ;
3. Asepek Pembiayaan: tidak seimbangnya besar biaya operasional – pemeliharaan (O dan M) pengelolaan dan besarnya penerimaan retribusi sebagai konsekwesi logis pelayanan pengelolaan;
4. Aspek Pengaturan: tidak dimilikinya kebijakan pengaturan pengelolaan didaerah yang mampu memberikan motivasi kesadaran peran serta masyarakat untuk ikut secara utuh dalam pengelolaan secar terpusat baik menyangkut pembiayaan dan teknis operasional sehingga berwawaskan lingkungan;
5. Aspek Peran serta Masyarakat: kesadran masyarakat untuk ikut serta secara utuh dalam pengelolaan perlu ditingkatkan.
2.12 Undang-undang dan peraturan Nasional dan regional serta kebijaksanaan Daerah Terkait pengelolaan Air limbah
Secara Umum beberapa perundang-undangan dan peraturan yang terkait dengan pelaksanaan pengelolaan air limbah nasional maupun regional adalah:
• Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
• Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tenang Pajak dan Retribusi Daerah;
• Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisi Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL);
• Keputusan Menteri PU Nomor 69/PRT/1995 Tentang Pedoman Teknis Mengenai Damapk Lingkungan Proyek Bidang Pekerjaan Umum
Disamping perundang-undangan,Peraturan dan Kebijakan diatas maka pengelolaan air limbah secara operasional harus mengacu pada standarisasi yang sudah ada seperti:
• SK SNI T -07 -1989-F Tentang Petunjuk Teknis Pembuatan Tangki septik;
• SK SNI T -08 -1998 –F Tentang Tata Cara Perencanaan Bangunan MCK Umum.
• SK SNI T -09 – 1998 –F Petunjuk Teknis Pembuatan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL).
• Standar Pelayanan Minimal (SPM) tahun 2001.
2.13 Sanitasi Berbasis Masyarakat (Ngampilan, Yogyakarta)
• Pengelolaan Lingkungan Hidup Wilayah Sungai Winongo
Program Lingkungan Hidup Indonesia Jerman (ProLH) fase I (1999-2003) memfasilitasi proses penyusunan suatu perencanaan pengelolaan lingkungan hidup di wilayah Sungai Winongo. Dalam proses tersebut, Tim RBM (terdiri dari staf inter sektor) mengawalinya dengan menyusun Profil Sungai Winongo, yang merupakan referensi utama dalam penyusunan perencanaan, disamping keberadaan rencana tata ruang yang sudah ada. Dalam perencanaan pengelolaan lingkungan hidup tersebut, ditegaskan beberapa prioritas isu yang harus segera ditangani, antara lain penanggulangan limbah cair domestik di daerah Ngampilan, Yogyakarta. Selain itu, masyarakat setempat telah mengusulkan dibangunnya suatu pengolahan limbah cair domestik kepada Walikota Yogyakarta sejak tahun 2000.
• Situasi Pengolahan Limbah Cair di Propinsi D.I. Yogyakarta
Situasi pengolahan limbah cair di Yogyakarta sangat perlu ditingkatkan dan secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut; hanya 9% dari seluruh populasi yang terhubungkan dengan instalasi pengelolaan limbah cair publik, 42% memiliki sarana sanitasi individual seperti septic tank, 0,2% menggunakan fasilitas komunal, dan 49% masih melakukan pembuangan langsung ke lingkungan tanpa ada pengolahan. Fasilitas publik pengolahan limbah cair belum bekerja sesuai kapasitasnya. Septic tank individual yang telah ada pada umumnya tidak akurat dalam desain, operasional dan pemeliharaan. Oleh karena itu, fasilitas ini tidak berfungsi semestinya. Penempatannya pun sering terlalu dekat dengan sumur dimana penduduk menggunakan airnya untuk kebutuhan sehari-hari.
• Partisipasi Masyarakat Community Base Sanitation
Kampung Serangan merupakan wilayahberpenduduk padat dan matapencaharian penduduknya bervariasi tetapi pendapatan rata-ratanya di bawah Rp 500.000,- per bulan. Sebanyak 90 % keluarga memiliki WC sendiri dan sisanya menggunakan WC Umum atau sungai. Semua WC yang ada di kampung ini tidak memiliki septic tank, semua air limbah disalurkan melalui pipa menuju ke sungai, sehingga air sungai menjadi kotor dan bau.
Pemerintah Propinsi D.I. Yogyakarta melalui BAPEDALDA dan Kantor Pengendalian Dampak Lingkungan(PEDAL) Yogyakarta menjalin kerja sama dengan pemerintah Jerman dalam program pembangunan instalasi pengolahan air limbah dipayungi oleh Program Lingkungan Hidup Indonesia – Jerman (ProLH). Beberapa instansi lain yang ikut terlibat dalam tahap persiapan dan perencanaan antara lain Dinas Tata Kota, Dinas Kimpraswil, Dinas Kesehatan, Kantor Kecamatan dan Kantor Kelurahan. Pembangunan instalasi pengolahan limbah domestik ini melibatkan sebuah LSM yaitu LPTP (Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan) DEWATS yang bertanggung-jawab untuk membangun instalasi pengolahan air limbah dan persiapan sosial masyarakat. Dengan menggunakan CPA (Community Participatory Assesssment) yang merupakan metode pendekatan yang mengkaji kondisi sanitasi masyarakat dengan mengadopsi MPA (Methodolgy Participatory Assessment)dan PHAST (Participatory Hygiene and Sanitation Transformation) untuk meningkatkan partisipasi masyarakat agar bersedia terlibat secara aktif dalam perencanaan dan pemeliharaan sarana sanitasi. Teknik CPA yang telah digunakan adalah Community Mapping, Transect Walk, Partisipasi saat Pembangunan Pelayanan. Dari ke tiga teknik ini, masyarakat bisa ikut menentukan kemungkinan jalur pipa utama dan HHC (House Hold Connection), jumlah calon pemanfaat sarana sanitasi, panjang jalur dan masalah-masalah yang mungkin timbul pada saat pembangunan. Dalam program ini masyarakat juga dilibatkan untuk ikut membiayai dan merawat instalasi pengolahan air limbah tersebut. Kontribusi masyarakat dalam pengadaan perpipaan HHC (House Hold Connection) senilai Rp. 600.000,- yaitu untuk perpipaan dari saluran WC, kamar mandi, tempat cuci, dan dapur ke pipa utama dan upah tenaga kerja. Kontribusi perawatan instalasi adalah Rp 500,- per KK setiap bulannya. Pelaksanaan konstruksi dimulai tanggal22 Desember 2003 dan berakhir pada bulan April 2004 untuk kemudian dilanjutkan dengan proses perpipaan. Proses per-pipaan selesai pada awal bulan Mei 2004 dan mulai beroperasi pada tanggal 6 Mei 2003. Setelah 3 hingga 6 bulan beroperasi hasil tes laboratorium menunjukkan bahwa air limbah yang telah diproses itu telah memenuhi standar baku mutu air limbah. Keberhasilan program ini kini diikuti oleh Pemerintah Daerah untuk lokasi lain, dan didiseminasikan lebih luas oleh Kementerian Lingkungan Hidup.
Daftar Pustaka
Robert J. Kodoatie, 2003. Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur. Pustaka Pelajar: Jakarta.
Robert J. Kodoatie, 2005. Pengantar Manajemen Infrastruktur. Pustaka Pelajar: Jakarta.
WWW.GOOGLE.COM 13 Maret 2008 11.08
www. Wikipedia.com
http://www.kimpraswil.go.id/Limbah.pdf.
Modul Tugas Studio Permukiman Kota, 2008. Universitas Brawijaya Jurusan Perencanaan Wilayah & Kota.